Senin, 14 Maret 2011

Ketika si Film Masih SD


image source: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjfwlnaa5QeTc90IdjmkA-sZ8AXNKc2Vc3WnoG07tic9n5-C3klr1YYg0N8dfK9D_W4DZsLDrtR7toaVE3iVXnmEruZPln0hGvk20kc6r1_2E_63fKZ_BerJNE0AHovug3cXLQLMhMcd0k/s1600/SD+pelangi.jpg

Beberapa waktu lalu, saya mendapat email dari seorang rekan di Medan yang berisi tentang pemutaran film. Ada sembilan film dari 38 film hasil buatan anak-anak yang diputar dalam acara pemutaran film tersebut. Acara ini adalah salah satu bagian dari kegiatan Festival Film Anak (FFA) yang rutin diadakan tiap tahun.

Saya agak sedikit kaget dengan email tersebut. Betapa film sekarang sudah sangat membumi dan dekat dengan siapa saja, tak terkecuali anak-anak. Apalagi dekat di sini bukan hanya dalam artian sebagai penikmat film tetapi juga sebagai pembuat film itu sendiri. Handycam dan seperangkat komputer bukan lagi hal yang sulit untuk dikuasai anak-anak. Dengan pendampingan yang baik dari orang tua, hasilnya puluhan judul film terlahir dari kreatifitas mereka. Tentu menjadi hal yang sangat membanggakan ketika sekumpulan anak mampu menuangkan ide dan gagasan mereka dalam sebuah film.

Film. Demikianlah adanya saat ini. Digandrungi banyak orang karena menawarkan hal berbeda yang tidak didapat dari media massa lainnya. Kekuatan narasi yang berpadu dengan teknik pengolahan audio visual menjadikan indra kita sulit untuk menolak kehadirannya. Film 2012 misalnya, mata kita tidak mau berkedip lama-lama takut kehilangan momen-momen luar biasa yang memanjakan mata. Pun ketika menonton inception. Tak ada obrolan sama sekali, bahkan handphone juga dimatikan agar tidak menggangu konsentrasi saat menelan sedikit semi sedikit cerita yang agak rumit namun fantastik.

Dari dulu hingga sekarang, film tak pernah mati, meski mengalami pasang surut. Perkembangannya cukup bagus jika diurut sampai ujung. Tentu yang berada di urutan awal perkembangan film adalah tentang teknologi rekam sendiri. Panjang mengenai hal ini karena penemuan alat rekam gerak tidak bisa terlepas dari teknologi-teknologi lain seperti kamera yang dikembangkan Daguerre dan alat rekam suara oleh Edison.

Menarik ketika pertama kali film tercetus justru dari kebutuhan masyarakat waktu itu untuk mendokumentasikan finish lomba pacuan kuda yang rawan menimbulkan masalah. Dari sinilah muncul ide untuk membuat gambar bergerak dengan menyusun beberapa frame yang diambil continues sehingga menimbulkan kesan gerak, tentu masih tanpa suara.

Tahun 1896 adalah kali pertama sebuah film menjadi konsumsi publik. The kiss sangat kontroversial dengan menampilkan adegan ciuman selama 47 detik. Film karya William Heise ini hanya menampilkan gambar singkat dengan single shoot kamera dari arah depan. Adegannya sangat sederhana, sex value menjadi bumbu yang membuat adegan antar dua insan lawan jenis ini menjadi menarik. Meski hanya beberapa detik, efeknya luar biasa. Banyak yang mengkritik film ini terlalu porno untuk dipublikasikan, di sisi lain tidak sedikit yang mulai mencoba-coba untuk membuat film yang lebih bagus. Dari sini generasi pertama film telah lahir, berkembang untuk memasuki generasi berikutnya yang lebih maju.

Hanya dalam waktu tujuh tahun, pada tahun 1903 The Great Train Robbery hadir sebagai film yang bisa merepresentasikan generasinya. Film yang berangkat dari kisah nyata ini mengisahkan tentang sebuah permapokan besar di sebuah stasiun kereta api. Film ini lebih kompleks dari film-film sebelumnya, selain durasi lebih panjang teknik pengambilan gambar juga sudah mulai bervariasi meski masih sangat kaku.

Melihat perkembangan pesat dalam industri film, muncul film pertama yang mengaduk-aduk emosi penonton dengan narasi memilukan. Adegan-adegan dramatis tentang pemberontakan pelaut Potemkin dan kekejaman militer di tangga Odessa sarat akan sarkasme dan propaganda. Dalam film ini Sergei M Eisenstein mulai memperkenalkan teknik montase yaitu menggabung-gabungkan beberapa scene secara cepat dalam sebuah adegan. Begitu juga dengan gerak kamera yang mulai mengikuti gerak adegan, berbeda dengan film-film sebelumnya yang hanya diam. Beberapa angle juga mulai digunakan seperti bird eye level.

Dua film berikutnya adalah Citizen Kane dan Bicycle Thieves. Meski masih hitam putih, kedua film yang muncul pada tahun 40an ini sudah bisa dinikmati secara nyaman dari sisi audio maupun visual. Citizen Kane memperkenalkan alur flashback yang menjadikan film semakin bervariasi dan rumit. Eksplorasi besar-besaran juga terjadi dari sisi teknis pengambilan gambar seperti focussing object, variasi angle, perpaduan musik dan suara tokoh dan pergerakan arah kamera yang semakin luwes. Begitu juga dari sisi cerita, ide tentang teka-teki rosebud mampu menghasilkan film dengan durasi dua jam. Sedangkan Bicycle Thieves adalah film yang hadir dengan membawa konsep kesederhanaan. Jalan cerita yang sangat humanis dan mengalir, film ini mampu mengetuk hati penonton.

Seperti halnya manusia, film juga mengalami perkembangan. Berawal dari sebuah ide pendokumentasian pacuan kuda hingga menjadi sebuah jalinan narasi berdurasi dua jam. Dari awal kemunculan hingga generasi Bicycle Thieves, film masih terus mencoba-coba dan belajar untuk menjadi lebih baik. Ada tahap-tahap dimana film harus melewati satu per satu tahap itu menuju kedewasaannya, maka tak heran jika saya menyebut era itu sebagai masa Sekolah Dasar (SD)-nya.

Rabu, 23 Februari 2011

Poligami dalam Visualisasi Sinclair


Image Source: http://www.viiphoto.com/showstory.php?nID=1186

Berbicara masalah gender, nampaknya poligami tidak akan pernah habis untuk dibahas. Silih berganti, berita-berita tentang poligami meramaikan media. Gaungnya tidak pernah berhenti seiring dengan semakin banyaknya aktifis gender dan masih banyaknya praktek-praktek poligami di masyarakat.

Sebuah liputan yang cukup mengejutkan dipublikasikan setahun lalu oleh Stephanie Sinclair. Dia adalah pewarta foto lepas yang mendapat kesempatan untuk mendokumentasikan kehidupan keluarga poligami di Amerika Serikat. Tahun lalu, foto-fotonya telah diterbitkan oleh National Geographic dan New York Times. Tak ayal, liputan ini menjadi perbincangan hangat karena praktek poligami dilarang (ilegal) di Amerika Serikat.

Sinclair mengabadikan ratusan foto keluarga Joe Jessop, seorang penganut Kristen Fundamentalis di Hildale, Amerika Serikat. The Fundamentalist Church of Jesus Christ of Latter-Day Saint (FLDS), adalah sekte yang muncul pada tahun 1990an akibat permasalahan poligami dengan gereja maenstreem Mormon.

Foto-foto Sinclair selalu menarik menurut saya, perspektif yang dibawanya seringkali mengusik dan berbeda dari kebanyakan fotografer lain. Dia sangat piawai mengawal isu-isu yang seringkali mendera kaumnya. Sebagai seorang fotografer wanita, dia memiliki kepekaan lebih ketika meliput masalah poligami, kekerasan terhadap perempuan dan isu-isu gender lain. Foto-foto yang ia dapat sama sekali tidak terlihat adanya jarak antara dia dengan subjek fotonya. Semua terlihat alami dan sangat intim. Lihat saja beberapa foto yang memperlihatkan subjek wanitanya terlihat tidak terganggu ketika dipotret di ruang-ruang pribadi mereka.

Selain itu, foto-fotonya juga sangat santun, ketika poligami seringkali diidentikkan dengan penindasan terhadap hak-hak kaum wanita, Sinclair tidak terjebak dengan subjektifitas ini. Hampir kesemua fotonya menampilkan visual yang indah-indah, keceriaan dan kesenangan, namun dia tetap tidak melupakan bingkai poligaminya. Sehingga, foto-foto ini terlihat sangat dalam, apalagi dikontekskan dengan negara dimana subjeknya tinggal, Amerika Serikat yang notabene sangat liberal dan menjunjung tinggi persamaan Hak Azasi Manusia.

Lagi-lagi saya mengatakan bahwa Sincalir memang hebat dan sangat beruntung menangani project ini. Dia adalah satu-satunya fotografer yang berhasil mendekati dan berhasil membuat liputan foto tentang keluarga ini, pun hasilnya sangat luar biasa. Saya belum mendapatkan referensi yang cukup banyak tentang bagaimana akhirnya Sinclair mendapatkan akses untuk mendokumentasikan kehidupan keluarga poligami ini. Yang pasti, terpublikasikannya foto-foto ini sedikit banyak akan mempengaruhi kehidupan keluarga ini. Beberapa pria pelaku poligami dari sekte yang sama dengan Joe sudah diadili di persidangan. Bahkan Warren Jeffs, pemimpin sekte FLDS masuk dalam sepuluh buronan FBI yang paling dicari-cari. Saya hanya tidak habis pikir bagaimana akhirnya Joe mau kesehariannya didokumentasikan oleh Sinclair padahal jelas-jelas ini sangat berbahaya bagi keluarga besarnya. Tidak ada sedikitpun ekspresi kegelisahan yang ditampilkan dalam visual keluarga Joe. Bahkan Joe sendiri terlihat sangat menikmati atas posisinya sebagai subjek, terlihat sekali dalam sebuah frame yang menampilkan dia beserta kelima istri, 46 anak dan 239 cucunya. Terlebih salah satu quotenya menegaskan hal ini "I've had a blessed life. I wouldn't trade places with anyone."

Tak heran jika Sinclair manjadi satu-satunya fotografer wanita di jajaran nama-nama besar seperti James Nachtwey dan John Stanmeyer di VII Photo Agency, karya-karyanya selalu berbeda, unik, dan menarik untuk dikaji. Liputannya tentang poligami adalah satu dari banyak isu gender yang ia kawal dengan pandangan wanitanya. Beberapa karyanya bahkan mendapat penghargaan-penghargaan bergengsi seperti Worldpess Photo dan UNICEF's Photo of the Year.

Referensi:
http://www.stephaniesinclair.com/bio.php
http://www.viiphoto.com/showstory.php?nID=1186
http://ngm.nationalgeographic.com/2010/02/polygamists/sinclair-photography

Selasa, 22 Februari 2011

Saya, Bantul dan November 1828


image source:https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjylcrISIXnIf2U-jhI9zuVCMNeHmy9jRMQW3A-gKAmhq2HiLwM4UjvYhX2E1_iYvctMXCOqAu0-WCKVDbhtLdkr1PnPsQM_l0nFngw7VhezzRtAMEFptBDV_5QCtHPzE7XlZb2LXrsT7BQ/s1600/November_1828.jpg

Awal ketika film ini mulai diputar, saya sempat berfikir film ini sejenis Angling Dharma. Atmosfer yang dibawa memang mirip, tampilan tradisional dengan iringan gamelan khas Jawa. Bahkan di awal saya mulai bosan karena opening terlalu lama. Lihat saja ketika arak-arakan pasukan berjalan melewati persawahan, di scene ini kejenuhan mulai terasa, padahal film baru dimulai.
Satu hal yang membuat saya tetap antusias menonton film dari awal hingga akhir, setting tempat yang digunakan untuk pembuatan film ini berada di Bantul, tempat dimana saya tinggal. Tentu pemilihan lokasi pengambilan gambar ini memang disesuakan dengan kondisi real waktu itu dimana perjuangan memang berada di kawasan Yogyakarta, termasuk Bantul. Ada magnet lebih yang membawa unsur kedekatan psikologis ketika film ini diputar.
Cerita-cerita tentang Pangeran Diponegoro sudah lama saya dapatkan, bahkan jauh sebelum guru SD saya bercerita di kelas IPS. Bagaimana tidak, Goa Selarong, patilasan tempat Pangeran Diponegoro beserta pengikutnya bersembunyi ketika dikejar Belanda hanya sak plinthengan dari rumah saya. Belum lagi kultur masyarakat yang menyakralkan Pangeran Diponegoro. Setiap tahun sekali, diadakan grebeg Selarong sebagai wujud penghormatan kepada sang pejuang. Maka tak heran, film ini menarik bagi saya karena kedekatan yang telah terbangun, meski di awal sedikit jenuh dengan opening yang terlalu panjang.

image source:http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2010/01/23/1750226p.jpg
Terlepas dari latar belakang di atas, film November 1828 produksi akhir dekade tujuh puluhan ini terbilang bagus. Pemilahan pemeran yang brilian menjadikan setiap tokoh yang ada di film ini sangat berkarakter. Kromoludiro yang diperankan Maruli Sitompul misalnya, diperankan sangat apik dengan pembawaan yang khas. Begitu juga El Manik yang berperan sebagai Van Aken, kapten Belanda yang tidak suka terhadap cara-cara Van den Borst, atasannya, yang memperlakukan warga pribumi dengan sewenang-wenang. Karakternya cukup menonjol mengingat peran yang dibawanya unik. Keputusan Teguh Karya menampilkan tokoh ini tepat menurut saya. Secara psikologis tokoh Van Aken sangat kuat. Pengkhianatannya pada Belanda, menggeser perannya ke arah protagonis. Kedekatan emosional dengan penonton inilah yang menjadikan karakternya berbeda. Terlebih, tokoh Van Aken menambah daftar nama orang Belanda yang bersimpati kepada warga pribumi, karena biasanya hanya Douwes Dekker saja yang disebut dalam buku sejarah. Padahal pada kenyataannya, tidak sedikit karakter-karakter sejenis namun tidak pernah terungkap. Setidaknya hal ini mengubah paradigma bahwa tidak semua warga Belanda itu penjajah.
Di samping itu, ada beberapa hal yang kurang menurut saya. Pertama, ada beberapa scene yang sedikit lebay. Adegan pengejaran Bondan oleh pasukan belanda misalnya. Setelah ketahuan memasukkan racun ke dalam makanan, dia dikejar beberapa pasukan. Secara nalar, harusnya dalam tempo singkat harusnya langsung tertangkap, toh larinya hanya berputar-putar di dalam markas Belanda. Sayangnya, Teguh terlalu lama menampilkan scene ini, sehingga kesannya malah mirip adegan kejar-kejaran konyol di kartun Tom and Jerry.
Kedua, tidak munculnya Pangeran Diponegoro. Jujur dari awal saya menunggu-nunggu tokoh ini muncul, tetapi hingga akhir namanya saja yang kerap disebut. Entah apa alasan Teguh tidak menampilkan Pangeran Diponegoro. Saya menduga mungkin Teguh memang sengaja lebih menekankan pada perjuangan rakyat jelata sehingga kemunculannya dirasa tidak perlu. Namun hal ini malah membuat saya berpikir yang tidak-tidak. Jangan-jangan karena penokohan Pangeran Diponegoro yang sangat sakral sehingga tidak ada yang berani memerankannya. Saya jadi teringat Grebeg Selarong yang diadakan tiap tahun di desa saya, meski untuk mengenang jasa Pangeran Diponegoro, namun tokoh ini sekarang tidak pernah muncul. Karena dulu pernah ketika tokoh ini dimunculkan, dua tahun berturut-turut kuda yang ditunggangi tokoh Pangeran Dipenegoro selalu mengamuk. Jangan-jangan karena seperti ini juga??haha..

image source:http://belajarsejarah.com/upload/selarong.jpg

Film: Pencetak Uang dan Penjajahan Ideologi


image source: http://noscadgie.files.wordpress.com/2010/01/imperialisme_global.jpg

Tidak berlebihan apa yang dikatakan oleh seorang Perancis melalui Leo Rosten bahwa lewat film, Amerika Serikat telah berpengaruh terhadap penjajahan budaya di dunia. Faktanya, saat ini Hollywood memang tengah merebut pangsa pasar film di seluruh penjuru dunia. Ya, hal ini tak lepas juga dari peran pemerintah Amerika Serikat yang berdiri di belakang mendukung industri hiburan ini untuk mendapatkan keuntungan materi dan penjajahan ideologi.

Cohen berkesimpulan bahwa film-film hollywood sudah menggunakan teknik tinggi (lanjutan) dan lebih banyak dipublikasikan ke seluruh dunia melalui media massa. Berbeda dengan film-film Eropa yang percepatannya lama dalam berkembang, sehingga kepopulerannya kalah dibanding film-film Amerika.

Cohen juga berpendapat bahwa ada perbedaan besar antara sekolah-sekolah film yang dimiliki Eropa dan Amerika. Di Universitas Krakow Polandia misalnya, kurikulum menekankan pada seni liberal dan humaniora. Praktisnya, pelatihan-pelatihan diarahkan pada teknik-teknik penggunaan kamera dan lighting. Berbeda dengan sekolah film di Amerika Serikat. Beberapa sekolah film terbaik Amerika Serikat seperti UCLA dan USCNYU lebih “melatih” daripada “mendidik” sejak awal.

Terjadi perubahan besar sejak awal abad ke 20 dimana bioskop Amerika betul-betul serius dijadikan ladang bisnis. Para pengusaha menyusun formula untuk mengubah “bentuk seni” baru ke dalam komoditas yang menarik pangsa pasar besar. Dimulai dengan menyempurnakan sisi teknologi animasi. Layaknya sebuah produk makanan, pengemasan menjadi hal yang sangat penting untuk menarik pembeli. Penggunaan kantong warna-warni dengan gambar dan tulisan yang mencolok akan menambah daya jual. Begitu juga yang terjadi di Hollywood, efek visual digarap sesempurna mungkin. Hasilnya seperti saat ini, tidak ada yang meragukan lagi kehalusan efek 3D dan jernihnya sound buatan Hollywood. Walau mungkin secara narasi kadang kalah dengan film-film buatan Eropa, tapi bagi para penonton awam yang kurang memperhatikan sisi ini, mereka keburu takjub dengan efek visual yang ditampilkan.

Disamping sisi visual, Hollywood menerapkan sebuah rencana bisnis. Ketika para petinggi studio menyampaikan ide film, mereka membuat semacam formula. Yaitu dengan memberikan script kemudian memerintahkan untuk membuat pertunjukan yang memikat dan membuat kesan baik dalam diri penonton. Sehingga ketika nanti rilis film lain dari studio yang sama, mereka akan berbondong-bondong untuk menonton kembali.

Sisi kenyamanan bioskop juga tidak lupa disentuh. Kursi empuk, pendingin ruangan, dan layar super lebar menjadi hal standar yang wajib dimiliki oleh setiap pemilik jasa pemutaran film. Bahkan hal kecil seperti tersedianya minuman ringan dan sebungkus popcorn akan menjadi aneh kalau tiba-tiba saja dihilangkan. Ya, semua seakan sudah melekat dan membudaya. Budaya siapa? Hollywood tentunya. Persoalan macam popcorn ini memang bukan hal yang krusial, tetapi bisa dijadikan contoh bahwa dari hal-hal yang kecil ini saja Hollywood sudah sangat dekat dengan kehidupan kita.

Review Artikel Saul Landau, The Film Industry : Business and Ideology
http://www.counterpunch.org/landau08022003.html

Senin, 21 Februari 2011

Iron Man=Hollywood=AS??


Image source: http://colinresponse.files.wordpress.com/2008/01/american20ironman1st21.jpg

Film adalah bagian dari sistem ekonomi, juga bagian dari sistem ideologis. Sedangkan bioskop dan seni merupakan cabang dari ideologi tersebut (Jean-Luc Comolli dan Jean Narboni)

Setidaknya, itulah gambaran yang ada saat ini mengenai perfilman dunia. Bahwasanya,tidak ada film yang bisa terlepas dari unsur ideologis penciptanya. Seperti kita tahu bahwa film sebagai salah satu bentuk media massa memiliki peran yang sangat besar dalam penyebaran suatu paham, terutama saat ini dimana penyebaran paham lewat jalan perang yang membabi buta sudah tidak musim lagi.

Comoli dan Narboni berkesimpulan, bahwasnya setiap film merupakan politik. Film mencerminkan ideologi tertentu, entah itu dalam bentuk paham, kepercayaan(agama), gaya hidup maupun hal-hal lain yang melatarbelakangi produksi film. Bisa saja pesan-pesan ideologis ini disampaikan secara implisit melalui simbol-simbol tertentu, atau memang secara terang-terangan sebuah film mengaku mengusung ideologi tertentu dan ditampilkan secara eksplisit.

Iron Man misalnya, sekuel yang disutradarai Jon Favreau ini selain menyuguhkan keunggulan efek visual, juga sarat akan pesan-pesan ideologis. Sangat kuat mengusung ideologi Amerika, seperti halnya saudara-saudara se-ibu berlabel Hollywood.

Sosok Stark sebagai pemain utama seakan-akan mewakili hegemoni Hollywood atas perfilman dunia. Stark memiliki kekayaan yang melimpah ruah, ketampanan dan kecerdikan menggambarkan keadaan Hollywood yang mempunyai sumber daya berlebih dari sisi financial dan teknologi. Sisi kemanusian yang ditunjukkan Stark yang seperti suka minum dan wanita adalah pesan implisit dari glamournya budaya Hollywood yang serba mewah. Belum lagi posisi Stark sebagai pemilik pabrik senjata yang menyokong militer Amerika dan peran gandanya sebagai hero, manusia berbaju besi. Nampak sangat superior dan berpengaruh. Ya, tak ubahnya hollywood yang adigdaya menelusup disetiap sendi-sendi perfilman seluruh dunia.

Akan lebih politis lagi ketika tidak hanya dikontekskan pada Hollywood, tetapi Amerika sendiri. Bisa dikatakan, Iron Man juga perwujudan dari Amerika yang memiliki peran besar dalam kancah dunia. Cerita-cerita mengenai persaingan dengan Russia juga tergambar dari film ini. Wajar saja, film ini hasil adaptasi komik Marvel produksi tahun 60an yang mana saat itu perang ideologi sedang gencar-gencarnya disuarakan oleh kedua kubu. Iron Man seakan mendengungkan kembali suara-suara perang dingin dengan kontrasnya penokohan Vanko sebagai tokoh antagonis. Vanko yang keturunan Russia digambarkan sebagai sosok yang kotor, penuh tatto, gelandangan teler yang keluar masuk penjara dan berhati busuk ingin menguasai dunia. Sangat berkebalikan ketika disandingkan dengan Stark yang digambarkan tampan dan rapi menggunakan pakaian necis, pembela kebenaran pula. Jelas, ini adalah gambaran kemenangan Amerika atas Russia, bahkan seluruh dunia, yang digambarkan melalui penggunaan setting Afghanistan dalam beberapa scene. Tidak hanya kemenangan ekonomi dan politis, tetapi juga hal krusial macam pengembangan teknologi militer seperti nuklir.

Demikianlah fakta yang terjadi. Negara sekuat Amerika Serikat tidak hanya menguasai meja-meja perundingan. Penanaman ideologi pada film-film mereka dirasa cukup ampuh untuk menduniakan apa yang mereka imani. Juga, cara ini cukup aman dan menyedot banyak perhatian karena pengemasan efek visual kelas satu.

Review artikel Landon Palmer , Culture Warrior: A Marxist Reading of ‘Iron Man 2′
http://www.filmschoolrejects.com/features/culture-warrior-a-marxist-reading-of-iron-man-2.php

Jumat, 18 Februari 2011

Identitas Bangsa dalam Cita Rasa Hollywood, Kapankah??


image source:http://fc05.deviantart.net/fs71/f/2010/057/3/f/budaya_indonesia_1_by_royyan.jpg

Hampir semua sepakat, Hollywood memang yang paling terdepan dalam dunia perfilman. Dari berbagai sisi Hollywood menang mutlak daripada film-film Eropa atau yang lainnya, apalagi film Indonesia. Kemampuannya mencipta berbagai variasi efek visual belum bisa ditandingi oleh siapapun. Ditilik dari segi manajemen, Hollywood sudah dipegang oleh orang-orang hebat dengan bisnis plan mumpuni, menjadikannya sebagai industri yang menghasilkan jutaan dollar.

Hebatnya, kondisi ini tidak hanya melanda negara-negara tetangga Amerika Serikat, tetapi hampir seluruh dunia mengalami apa yang dinamakan dengan “demam Hollywood”. Bisa dikatakan tidak ada negara diseluruh dunia yang tidak terkena terpaan Hollywood, hanya besaran dampak saja yang membedakan.

Kondisi ini jelas menimbulkan ketidakstabilan identitas bangsa dimana terjadi pergesekan antara budaya asing yang dibawa Hollywood dengan budaya lokal. Ada tiga kemungkinan ketiga pergesekan itu terjadi dimana kemungkinan paling parah adalah hancurnya budaya asli akibat dominasi budaya asing. Jika hal ini terjadi, keberagaman budaya dunia lama kelamaan akan terkikis dan menjadi sebuah budaya global bernama Hollywood. Mungkin saja kan terjadi?

Terjadi atau tidaknya kemungkinan diatas bergantung pada proteksi yang dilakukan pemerintah. Ada banyak cara untuk membatasi gempuran budaya ini. Penetapan quota misalnya, dengan cara ini jumlah film yang masuk dibatasi pada angka-angka tertentu sesuai kebijakan pemerintah. Cara ini pernah dilakukan oleh Eropa ketika Hollywood tak terbendung lagi menguasai pangsa pasar film Eropa. Mereka menetapkan aturan yang tertuang dalam General Agreement Tariffs and Trade (GATT) yang intinya membatasi quota film impor. Cara ini memang cukup efektif untuk mengurangi jumlah tayangan-tayangan Hollywood, tetapi secara pengaruh ideologis cara ini tidak bisa membendung, hanya menghambat saja, karena pada kenyataannya film-film tersebut tetap diputar meski dalam kurun waktu yang lebih lama.

Bagaimana dengan pemboikotan produk Hollywod?? Tentu akan sangat sulit dan jika memungkinkan pun, cara ini terlihat tidak bijak. Di era informasi seperti saat ini pemboikotan macam ini tentu akan menuai banyak kontroversi. Apalagi yang diboikot adalah produk Hollywood yang memegang strata tertinggi dalam dunia film. Misalkan memang bioskop-bioskop nasional dilarang memutar film-film Hollywood, akses melalui internet yang begitu mudah akan digunakan demi memuaskan hasrat menonton.

Mungkin cara yang paling tepat adalah dengan memajukan industri film nasional. Hal ini tentu tidaklah mudah mengingat hal ini bukanlah urusan satu dua orang. Semua pihak yang terkait mulai dari para sineas, aktor, pemilik bioskop dan pemerintah haruslah menyadari bahwasanya tujuan ini tidak akan tercapai jika tidak ada “gotong royong” diantara mereka. Akan menjadi sia-sia ketika para sineas sudah bersatu padu menggenggam misi yang sama memajukan film nasional tanpa ada dukungan pemerintah yang mengatur setiap kebijakan negara. Boleh lah menyontek sedikit rahasia sukses Hollywood yang juga bergantung pada kebijakan pemerintah Amerika Serikat. Keseriusan Amerika Serikat menggarap lini ini sebagai sebuah industri hiburan terbayar sudah dengan dollar yang setiap saat mengalir bak air hujan turun dari langit.

Meski terlihat utopis, jika semua pihak yang terkait bahu membahu menyatukan misi yang jelas kedepan, bukan tidak mungkin suatu saat film nasional mampu bersaing dengan Hollywood. Dengan demikian, sisi kualitas visual seperti pada film-film Hollywod akan tetap diperoleh tanpa ada bayang-bayang ideologi bangsa lain. Malah akan semakin nasionalis dengan bumbu-bumbu identitas bangsa yang disematkan. Ya, itulah yang ditunggu-tunggu, film dengan teknologi kelas Hollywood tetapi buatan lokal yang sarat akan nilai-nilai kebangsaan.

Review artikel NATIONAL CINEMA, POLITICAL ECONOMY, AND IDEOLOGY
http://www.filmreference.com/encyclopedia/Independent-Film-Road-Movies/National-Cinema-NATIONAL-CINEMA-POLITICAL-ECONOMY-AND-IDEOLOGY.html

Kamis, 17 Februari 2011

Eksplorasi Teknik di balik Teka-Teki Rosebud


Rosebud. Awal yang bagus untuk menggiring penonton menanti-nanti ada apa dibalik kata-kata ajaib ini. Ya, 120 menit film ini hanya menceritakan tentang teka-teki rosebud yang diucapkan seorang milyader Amerika bernama Kane sebelum kematiannya.

Tidak ada yang spesial dari film ini jika kita bandingkan dengan film-film terkini, bahkan cenderung membosankan. Hal ini wajar, setiap hari kita sudah teracuni dengan produk-produk Hollywood yang memanjakan indra kita secara sempurna.

Memang, film ini bukan untuk dinikmati, tapi untuk dikaji. Banyak hal yang bisa ditelisik jika kita melihat dari sudut pandang teknis pembuatan film dikontekskan dengan waktu. Citizen Kane menjadi salah satu tonggak awal kemajuan teknis pembuatan film, eksplorasi yang dilakukan Orson Welles sang sutradara menjadikan film ini nampak berbeda dan evolusioner di zamannya.

Di awal, Orson Welles memperlihatkan teknik focussing object dalam film ini dengan menampilkan sebuah papan yang tergantung di pagar. Sebuah teknik yang digunakan untuk memberikan penekanan terhadap sebuah benda yang dianggap sebagai point of interest dari sebuah scene. Meski hanya di bagian ini saja penggunaan teknik focussing, pun tidak sempurna, setidaknya film ini telah memperkenalkan adanya variasi-variasi lain dalam pengambilan sebuah adegan.

Begitu juga dengan eksplorasi sudut pengambilan gambar(angle). Meski eye level masih sangat dominan, namun gerak kamera mengikuti gerak adegan sudah bisa dibilang luwes dan tepat. Misal ketika adegan yang memperlihatkan kemegahan Xanadu, gerakan kamera dan zooming out terasa sangat tepat menciptakan efek dramatis. Begitu juga dengan beberapa angle unik seperti saat scene pembantu Kane memasuki kamar dari sudut pandang refleksi benda mengkilap yang jatuh di lantai.


Flashback dipadu dengan durasi yang panjang mungkin menjadi hal yang paling revolusioner kala itu mengingat sebelumnya belum ada satupun film yang menggunakan alur maju mundur, lama pula. Sayangnya, dalam penerapan alur ini masih belum bagus sehingga cerita terkesan berantakan dan membingungkan. Kebosanan juga sudah memuncak sebelum mencapai klimaks di akhir cerita. Apalagi backsound yang digunakan juga masih monoton khas film lawas dengan alat musik yang terdengar menyayat-nyayat.

Kelemahan itu tentu wajar adanya melihat waktu itu belum ada teknologi canggih seperti sekarang. Secara keseluruhan teknis pembuatan film, Orson Welles berhasil memanfaatkan teknologi yang ada untuk membuat karya luar biasa yang menginspirasi sineas-sineas lain untuk terus mengeksplor berbagai macam teknik.

Dari isi cerita, Citizen Kane sangat bagus membawakan pesan “harta bukan segala-galanya”. Keterpurukan Kane tak lain karena dia menganggap bahwa dengan uang dia mampu memberikan kebahagian kepada istri-istri dan anaknya, namun pada kenyataannya, satu per satu mereka pergi meninggalkan Kane. Akhirnya, dalam kesendirian menjelang detik-detik kematiaanya, Kane baru menyadari bahwa kebahagiaan yang ia bangun berlandaskan materi itu semu. Hingga ia kembali menerawang jauh ke belakang di masa kecilnya, ketika sebuah kebahagian hadir hanya karena sebuah papan seluncur bertuliskan rosebud.

image source:
http://www.edzards-filmriss.de/wp-content/uploads/2010/07/citizen-kane-poster.jpg
http://www.oddfilms.com/blog/media/Citizen-Kane-globe.jpg

The Bicycle Thieves: Ketika Korban Menjadi Pemeran


Ladri di Biciclette, sebuah film neorealis tahun 40an yang diangkat dari kehidupan sehari-hari, sarat makna dengan segala kesederhanaannya. Ladri di Biciclette atau yang lebih populer disebut Bicycle Thieves merupakan film buatan Vittoria De Sica yang menceritakan tentang keadaan Italia pasca perang dunia kedua. Fokus kepada sebuah keluarga miskin yang mati-matian mempertahankan harta berharganya, sepeda. Meski hanya mengangkat hal yang remeh temeh, justru di sisi inilah yang mendekatkan film ini dengan penontonnya. Bolehlah kita mengatakan kalo inception itu keren, alurnya tidak beraturan, perlu ekstra berfikir untuk mencernanya, tetapi inception jelas kalah jauh dalam hal kedekatan dengan penonton. Inception mengangkat hal-hal abstrak tentang konsep mimpi, sesuatu yang jauh dari angan-angan manusia, sedangkan Bicycle Thieves terlalu jujur dengan cerita pencuri sepeda yang mungkin saja kita bisa mengalaminya.

Tidak ada efek-efek komputer yang maha canggih, tidak ada artis seksi macam Cameron Diaz, tidak ada lighting-lighting buatan, dan tidak ada – tidak ada lain yang ada pada film-film mutakhir. Lagi-lagi tentang kesederhanaan, film berdurasi 93 menit ini tidak menyuguhkan scene yang amazing, masih menggunakan film hitam putih. Lamberto Maggiorani sebagai pemeran utama dan aktor-aktor lainnya dibiarkan tampil natural tanpa makeup dalam film ini. Setting Itali sebagai negara yang kalah perang sepertinya mampu menampilkan scene-scene lebih dramatis daripada efek-efek komputer nan canggih. Begitu juga pemeran yang terlibat, mereka bukanlah manusia-manusia yang bisa dikatakan menarik secara mata bak artis-artis hollywod.

Film ini bearawal ketika Antonio Ricci yang diperankan oleh Lamberto Maggiorani mendapatkan pekerjaan sebagai penempel poster. Masalah pertama muncul saat pekerjaan yang dilimpahkan kepadanya mewajibkan untuk memiliki sepeda. Ricci yang tidak memiliki sepeda pulang dengan wajah muram karena takut kesempatan yang didapatnya akan sirna diambil orang lain. Di sini, Maria istri Ricci yang diperankan oleh Lianella Carell tampil begitu menyentuh dengan menjual semua sprei untuk ditukar dengan sepeda.

Naasnya, dihari pertama Ricci bekerja, sepeda yang dibeli dengan susah payah tersebut digondol pencuri ketika Ricci sedang bekerja menempel poster. Posisinya yang berada di atas tangga menguntungkan pencuri bertopi Jerman untuk segera melesat melarikan diri hanya dalam sekejap mata. Ketika itu juga Ricci dengan sekuat tenaga mengejar pencuri sepeda dengan berlari, menumpang mobil lewat, hingga pengejarannya nampak sia-sia.


Scene-scene berikutnya manampilkan usaha keras Ricci dan anaknya Bruno menyusuri Roma dengan harapan sepeda itu bakal ditemukan. Dibantu temannya, Ricci mendatangi pasar barang bekas, dengan teliti mereka perhatikan satu persatu semua barang ditempat itu. Sampai akhirnya dia melihat kakek tua sedang bertransaksi dengan seseorang yang ia duga sebagai pencuri sepeda. Kejar-kejaran pun terjadi, sayangnya pencuri tersebut tidak tertangkap.

Ricci yang mulai emosi mendatangi kakek-kakek tadi dan memaksanya untuk menunjukkan dimana pencuri itu berada. Akhirnya kakek tersebut mau buka mulut, Ricci mendatangi pencuri sepeda itu dan melabraknya. Untuk kesekian kali Ricci harus menerima kenyataan, pencuri tersebut sangat licik dengan pura-pura sakit, orang-orang yang mulai berkerumun tidak percaya bahwa pencuri itu mencuri sepeda Ricci. Polisi yang dipanggil Bruno juga tidak bisa berbuat apa-apa karena tidak ada bukti yang menguatkan.

Film ini berakhir tragis dengan aksi Ricci yang pada akhirnya memerankan posisi pencuri itu sendiri. Frustasi dengan cobaan yang datang bertubi-tubi, Ricci melihat ada kesempatan untuk mencuri sebuah sepeda yang diparkir di sudut kota yang sepi. De Sica memberikan ending yang sangat bagus dengan kegagalan pencuri amatir ini. Terlebih ketika scene yang memperlihatkan Bruno menangis terisak melihat ayahnya dikeroyok massa. Beruntung si pemilik sepeda memaafkan Ricci karena tidak tega melihat Bruno menangis.

Natural, simpel, sederhana dan dekat itulah gambaran tepat untuk mendeskripsikan film ini. Dari situlah kekuatan film jujur ini. Tidak salah jika film ini mendapatkan banyak penghargaan bergengsi kelas dunia, bahkan sebagai film terbaik sepanjang masa.

image source:
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjyRaW00csQOqGdBTXrTc86ujMnBpmUIzsUr_BvOXbkx8X5BkHBdxaoVz0sj9ALJ2sJUHfWIKo8-k4oUHMgFZ4VY3cUP_y6LznUAFaOMDicPK_dU7egf3ubUqpuMWZcsnEafj4rXKSz9Zes/s1600/BICYCLE+THIEF.jpg
http://www.moviediva.com/MD_root/MDimages/Copy_of_BikeT2.jpg

Selasa, 01 Februari 2011

Sego Jagung Mbah Joyo

Di pinggir jalan dekat Alun-alun Temanggung, seorang nenek berumur 80 tahun sedang ‘khusyuk’ meracik makanan. Menggunakan pincuk (terbuat dari daun pisang yang dilapisi koran), Mbah Joyo menyajikan makanan khas Temanggung yang sudah sangat jarang ditemui, sego jagung. Jagung giling rebus, sayur pepaya muda, tahu dan ikan asin dicampur jadi satu.

Sudah dua puluh tahun lebih Mbah Joyo berjualan sego jagung. Awalnya, Mbah Joyo berjalan keliling kota menjajakan dagangannya, namun sejak taun 80an mulai menetap di depan pertokoan dekat Alun-alun Temanggung. Langganannya banyak, bahkan tidak sedikit yang berasal dari luar kota.

Silahkan mampir, dijamin JOSS!! #gurihgurihgalau hihiiiii







Selasa, 25 Januari 2011

Kethoprak-Kethoprak Milenium


Image source: http://www.impossibletv.com/assets/images/content/talent%20show_02.jpg


Tiga pasang mata tengah asik memandang sebuah layar kecil dua warna di sudut ruang remang-remang. Gambar-gambar bergerak itu menampilkan lawakan-lawakan khas Topan Lesus dalam sebuah program televisi bertajuk Kethoprak Humor. Seorang bocah berponi lurus tampak ikut terhibur dengan sajian televisi yang dipilih oleh dua orang berambut putih di samping kanan kirinya. Meski kadang hanya nyengir tidak paham dengan “gojek tua” yang dilontarkan, bocah itu nampak menikmati saat saat malam Minggu bersama Kakung dan Uti-nya. Hampir setiap akhir pekan, hingga beberapa tahun berlalu seiring munculnya “kethoprak-kethoprak” lain yang lebih menarik.

Rasa-rasanya baru beberapa hari yang lalu saya melihat Topan beradu lawak dengan Lesus. Hanya dua orang itu yang masih teringat jelas. Guyonannya segar, meski kala itu saya sering tidak paham dengan apa yang mereka banyolkan, namun saya cukup terhibur. Ya, sekitar lima belas tahun yang lalu ketika saya masih duduk di bangku TK, kala itu saya lebih sering tidur di tempat Kakung daripada di rumah sendiri. Saya ingat betul setiap sabtu malam tak ada aktifitas lain selain menonton Kethoprak Humor di RCTI. Bukan karena maniak kethoprak, tetapi karena tidak ada sajian yang lebih menarik. Beberapa stasiun televisi lain seperti TPI dan Indosiar masih terlalu belia untuk membuat konsep acara yang mampu menyedot banyak penonton. Baru pada awal tahun 2000 banyak variasi acara bermunculan, seperti program kuis, talkshow, tak terkecuali talent show.

Talent show atau yang biasa disebut ajang pencarian bakat merupakan salah satu program reality show. Secara garis besar, konsep program ini ialah mengadu bakat-bakat terpilih di sebuah panggung yang disiarkan langsung melalui televisi dalam periode waktu tertentu. Ada berbagai macam bakat yang diadu seperti menyanyi, menari, sulap dan bermain musik.

Kebanyakan diawali dengan seleksi di beberapa daerah, hingga terpilih beberapa nominasi untuk maju ke babak final. Jumlah dan segmentasinya beragam, ada yang khusus untuk anak-anak, wanita, umur tertentu dan kriteria-kriteria lainnya . Para nominator inilah yang akhirnya mendapatkan kesempatan untuk unjuk gigi di sebuah panggung nan megah dengan jutaan pasang mata penonton. Setiap minggu, akan ada satu orang yang tersisih dan tidak bisa melanjutkan ke babak selanjutnya, begitu seterusnya hingga terpilih satu orang pemenang.

Meskipun konsep inti meniru program-program dari luar negeri, tak menjadi masalah ketika akhirnya program semacam ini disukai banyak pemirsa televisi Indonesia. Hal ini wajar karena di tahun-tahun itu, program televisi masih sangat monoton. Semakin berkembangnya industri televisi dan teknologi studio, hadirlah program-program dengan konsep yang lebih menghibur.

Pada tahun 2003, Indosiar menggebrak lewat Akademi Fantasi Indosiar (AFI) yang mengadopsi acara serupa dari Meksiko, La Academia. Sebagai pioner talent show di Indonesia, AFI menuai kesuksesan dengan meraih rating tertinggi versi Neilsen hingga berbulan-bulan. Jam tayangpun prime time, setiap malam akhir pekan. Sedikitnya ada lima generasi telah lahir dari acara ini, bahkan merambah ke segmen anak-anak dengan munculnya AFI Junior.

Indosiar cukup apik menayangkan AFI dengan konsep yang menyentuh hati penonton. Lihat saja disetiap eliminasi, keharuan sengaja dihadirkan agar penonton merasa dekat dengan acara ini. Ditambah lagi adanya acara-acara tambahan seperti Diary AFI yang mengulas kegiatan akademia (sebutan untuk kontestan AFI) saat dikarantina. Tanpa sadar, kedekatan ini dibangun oleh Indosiar setiap harinya, sehingga ada rasa sedih ketika melihat jagoannya harus tereliminasi. Latar belakang akademia yang beragam juga tak luput dari sorotan kamera. Ingat Veri AFI? Juara AFI generasi pertama ini adalah seorang penjual cendol. Cerita-cerita semacam inilah yang menjadi bumbu penyedap sebuah program talent show.

Tak mau kalah dengan Indosiar, dengan mengusung basic yang sama, RCTI menghadirkan Indonesian Idol. Lagi-lagi hasil jiplakan acara luar negeri, Indonesian Idol mengadopsi acara Pop Idol dari Inggris. Seperti halnya AFI, Indonesian Idol juga mendapat sambutan yang luar biasa dari pemirsa televisi Indonesia. Persaingan antar stasiun televisi sangat terlihat dengan waktu penayangan yang sama di akhir pekan. Indonesian Idol mengambil alih posisi top rating versi Neilsen di musim keduanya, mengalahkan AFI yang sudah masuk di musim ketiga. Bahkan berturut-turut pada tahun 2006-2007 Indonesian Idol meraih penghargaan Music & Variety Show Terbaik diajang Panasonic Award.

Begitu juga yang dilakukan oleh stasiun televisi lain. TPI misalnya, sukses menghibur para pecinta dangdut dengan KDI-nya. Kemudian muncul Audisi Pelawak TPI (API) yang mencoba mengadu bakat-bakat pelawak. Beberapa program silih berganti seperti Mama Mia, Indonesian Super Model dan Super Mama Seleb Show, Pemilihan Putri Indonesia, Miss Indonesia, The Master dan lain-lain.

Indonesia Mencari Bakat (IMB) yang ditayangkan TRANS TV mungkin yang paling hot saat ini. Dengan mengusung konsep yang cukup berbeda dari program talent show sebelumnya, IMB mampu menyihir jutaan penonton televisi Indonesia. Tak lagi sejenis, berbagai macam bakat seperti menyanyi, menari dan komedi diadu dalam satu panggung. Langkah yang diambil TRANS TV tepat dengan menayangkan IMB sebelum Indonesia’s Got Talent (IGT) digelar. Tentu pamor IMB lebih tinggi karena dianggap sebagai pioner. Padahal sebenarnya, Fremantle, produser program televisi internasional telah menawarkan licensi IGT kepada TRANS TV untuk membelinya. Namun negosiasi tersebut gagal dan setelahnya TRANS TV buru-buru membuat konsep program yang sebenarnya mirip dengan IGT. Walhasil, IMB lebih dulu tayang sebelum IGT, yang akhirnya dibeli oleh Indosiar. Meski terkesan mencuri ide, pihak TRANS TV menegaskan di situs resminya bahwa IMB merupakan buah pemikiran putra putri bangsa. Bahkan tagline-nya pun “Dari Indonesia, Oleh Indonesia dan Untuk Indonesia”.

Melihat perkembangan variasi program talent show dari dulu hingga kini, sepintas terlihat penuh persaingan. Stasiun-stasiun televisi terus berlomba untuk memproduksi tayangan yang disukai pemirsa. Jika kita tengok sedikit teori tentang media massa, ada beberapa fungsi media massa, yaitu to inform, to educate, dan to entertain. Televisi sebagai salah satu media massa saat ini lebih condong ke fungsi terakhir, to entertain. Trinitas fungsi media yang katanya sulit untuk dipisahkan tersebut nyata-nyatanya berat ke arah hiburan.

Televisi swasta lebih dikembangkan sebagai what the people want dan bukan what people need. Ini pun akhirnya berorientasi “pasar”. Ya, lebih kepada aspek disukai, bukan yang sebenarnya dibutuhkan oleh masyarakat. Ujung-ujungnya rating akan naik dan pendapatan iklan melambung. Bayangkan saja, uang sebesar 40 jutaan mengalir ke stasiun televisi untuk setiap 30 detik iklan di acara-acara prime time. Bisa dihitung sendiri berapa pendapatan dari acara-acara populer macam talent show ini.

Jika dikaji lebih dalam, hal ini tentu bukan melulu karena kesalahan orientasi stasiun televisi. Masyarakat sebagai penikmat televisi juga turut andil dalam penentuan program-program televisi. Jika tadi dikatakan bahwa televisi condong ke arah hiburan, memang faktanya demikian. Dan penyebabnya tak lain karena orientasi masyarakat sendiri yang menganggap bahwa televisi adalah media penghibur. Nurudin dalam bukunya Televisi Agama Baru Masyarakat Modern menyebut ini sebagai sebuah pergeseran, dimana masyarakat menganggap kehadiran televisi sebagai fitrah menghibur. Maka tak salah ketika saya menganggap talent show dan program-program sejenis sebagai Kethoprak-kethoprak Milenium, program-program keluaran milenium kedua lebih tepatnya. Fungsi hiburannya kuat, tidak beda dengan lima belas tahun lalu ketika saya ikut terkekeh melihat Topan Lesus beradu lawak di Kethoprak Humor, terhibur.

Referensi
Nurudin. 1997. Televisi Agama Baru Masyarakat Modern. Malang: UMM Press
http://catatanhery.wordpress.com/2009/02/08/opini/
http://www.koran-jakarta.com/berita-detail.php?id=58531
http://www.indosiar.com/program/resensi/67466/fenomena-acara-pencari-bakat-di-layar-kaca-indonesia
http://id.wikipedia.org/wiki/Indonesian_Idol
http://indonesiamencaribakat.transtv.co.id
http://id.wikipedia.org/wiki/Akademi_Fantasi_Indosiar
Gambar
http://www.impossibletv.com/assets/images/content/talent%20show_02.jpg

Minggu, 26 September 2010

Teruntuk Sahabatku Ghozy, Selamat Jalan, Semoga Engkau Tenang Disana

Hari ini, 26 September 2010 salahsatu sahabatku, Ghozy Ul-Haq berangkat ke Russia. Pukul 18.00 sore ini dia akan lepas landas dari Soekarno Hatta Jakarta. Wahwah.. sebuah kesempatan yang luarbiasa bisa studi di luar negeri. Jujur, aku iri dengan pencapaiannya(iri akan hal baik boleh dong), mendapat beasiswa dengan menyingkirkan ratusan orang bukanlah hal yang mudah. Kalau bukan kerjakeras dan atas izin Allah semua itu sungguh mustahil, sepertinya Allah mendengarkan rengekannya setahun ini.

Sejak kelulusan dan ga ketrima di UGM (hwahahahahaaaaaaaa), aku lihat dia begitu serius mencari-cari peluang untuk mendapatkan beasiswa di luar negeri. Beberapa seleksi sudah dia coba, beasiswa ke Jepang? Gagal.. Aussie? Nihil.. dan yang lain-lain aku gatau, akhirnya Russia lah jalan yang diridhoi Allah, baiklah.. two thumbs for him..

Aku bisa merasakan setahun kemarin menjadi hal yang mungkin “gak mengenakkan” setiap ketemu dengan teman-teman atau guru yang menanyakan “nglanjutin kemana Ghoz??”, ahhhhaaa rasanya pasti seperti tercabik2 (lebay). Aku bisa merasakan itu ketika dia sering menghindar jika aku ajak berkegiatan di Sabayouth Community yang notabene selalu berhubungan dengan alumni dan penduduk sekolah. Haha.. tak apalah, aku maklumi. Juga dari cerita2 Huda(curcol ni orang) betapa setahun ga kuliah itu sungguh beban jika ketemu dengan teman-teman/guru, senasib ni yee jadi pengangguran setahun. Tapi sekarang, Alhamdulillah dia bisa menunjukkan apa yang sebenarnya memang bisa dia lakukan.

Selasa(21/09) sore, aku, Mas Andi dan Mas Zaid menyempatkan untuk bertemu dia distasiun Tugu, beberapa menit sebelum kereta membawanya menuju Jakarta. Dia sengaja berangkat lebih awal karena masih ada urusan yang belum diselesaikan di Jakarta. Kami antar kepergiannya hingga kereta tak lagi nampak, “wes lungo kono… jogja aman raono koe.. hahaha..”

Pagi tadi aku sempat message dia lewat fesbuk, kirain udah berangkat… eee ternyata baru sore ini. Percakapan pun terjadi. Di pesan itu kami membuat kesepakatan bahwa suatu saat nanti aku dan dia bakal bertemu di suatu negeri antah berantah, pokoke Eropa. Meski bagiku masih samar, tapi aku akan berusaha untuk menepati janjiku, semoga Allah memudahkan jalanku menuju kesana, amien. Dan jika diantara kami pada waktu bertemu itu sudah membawa istri, akan mendapat reward berupa konsumsi gratis selama jalan-jalan, tentu saja dibayarin sama yang kalah. “Hahaaaa… siap2 nabung ket saiki Ghoz, kayake bakal kalah koe…”

Harapanku, semoga kepergiannya ke Russia akan melecut semangatku untuk terus berkarya dan berusaha untuk studi di luar negeri juga.

Buat Ghozy:
Ratusan orang kecewa, sedih, gagal bersaing denganmu, dan aku yakin semua temen2mu iri atas pencapaianmu, so gunakan sebaik-baiknya kesempatan yang telah kau rengkuh ini. Jangan takabur, belajarlah dengan baik di sana, rasah neko-neko, dan segeralah pulang mengabdi untuk negaramu!! Maafkan jika selama ini aku sering mengalahkanmu maen PES, besok kalo pulang aku ngalah wae lah karo koe, ben seneng..ckckckk..
Doakan aku juga biar janji itu menjadi kenyataan.. mari saling mendoakan..
Selamat jalan..SUKSES!!

sebelum tragedi "hampir mati" di puncak Sindoro

Ga jadi muncak di Merbabu (menyesal aku)

launching website buatan kita, Saba Exploit

panitia buku tahunan angkatan

Jogja Java Carnival 2008

Soundrenalin at Prambanan

Jumat, 24 September 2010

Photos - Rumah Kami, Pagi Ini

Sayup sayup gemericik hujan perlahan menghilang. Kaos kaki, kaos tangan, jaket tebal dan selembar alas terbuat dari rajutan rotan melindungiku dari cuaca dingin semalaman. Bisa kurasakan kerasnya perjuangan rotan itu bertarung melawan aliran dingin di lantai ruangan tiga kali tiga meter ini. Sedangkan disekelilingku ada tumpukan buku, koran bekas, dan arsip-arsip yang beberapa terburai dari dua almari ukuran besar. Malam tadi mereka berisik sekali, sepertinya mereka sedang bertarung melawan usia, sudah bertahun-tahun mereka mendiami ruang ini, kelembapan membuat mereka semakin sering merintih. Aku sebagai penghuni baru, tidak berani-berani mengusik, sepertinya diam dengan mata terpejam adalah pilihan yang paling bijak, mengantarku ke dimensi yang berbeda.

Partikel terang mulai berpendar dan mengusik khayalan-khayalan yang kurajut sejak empat jam yang lalu. Kuloloskan mereka memasuki pupil mataku, menerobos dengan ganas bahu membahu, menyentak. Luar biasa, dalam hitungan detik partikel-partikel itu berubah menjadi spirit, menggerakkan sel-sel yang sedang mati suri. Semua kembali bekerja, organku hidup kembali, kugerakkan tanganku perlahan, meraba kiri kanan. Kudapatkan apa yang aku mau, 05:15.

Kulangkahkan kaki keluar dari ruangan ini menuju ruang tengah, sesosok manusia masih asik dengan mimpi-mimpinya, begitu juga di ruang tamu dan ruang komputer, beberapa ada yang saling membelakangi, ada pula yang diatas kursi. Nyawa mereka masih melayang-layang di loteng, menari-nari seperti balerina. Kubiaran mereka, kuurus mukaku yang bau rotan, bersentuh air dipojok kamar mandi. Aku benar-benar hidup.

Kumasuki lagi ruangan dimana aku menyimpan mimipi-mimpi semalam, kugelar kain panjang, kuangkat kedua tanganku, perlahan aku sudah terhanyut dalam komunikasiku dengan Tuhan. Kulantunkan syair cinta kepada Dzat yang memberiku kehidupan.

Satu dua kehidupan mulai terasa, secara bergantian mereka berseliweran di belakangku, hanya dalam tempo seperempat jam saja, kembali sunyi. Ya, mereka hanya terbangun sebentar untuk menyapa Tuhan, kemudian meneruskan kembali episode khayal yang belum sempat klimaks. Sering juga aku demikian, tapi entah kenapa pagi ini suasana membawaku untuk tetap hidup, menggerayangi nuts nuts yang mengalirkan kata-kata di layar depan mataku. Sesekali aku tengok halaman depan lewat jendela bertralis besi ruangan ini, kunikmati pemandangan dedaunan basah hasil cumbuan hujan dan beringin besar. Aroma kelembabannya sengaja aku hirup agar menarik keluar racun-racun dalam organ nafasku, aku selami tiap detik yang menyegarkan ini.

Kuitari seisi rumah kehangatan ini, kulihat wajah-wajah jujur disetiap ruang yang aku singgahi, terbujur kaku, hanya suara udara yang berhembus keluar masuk dari tenggorokan mereka saja yang berirama, indah meski tanpa intonasi. Kurasakan dengan seksama melodi yang tercipta sambil kurekam visual-visual mengagumkan yang terjaring oleh mataku. Ada darah-darah pejuang di dalam tubuh-tubuh mereka, ada nada-nada pemberontak disetiap derap nafas mereka. Manusia-manusia yang menginspirasi dan berpengaruh dalam menentukan langkahku kedepan. Satu hal yang membuatku ada diantara mereka, cinta.

B21, 24 September 2010






acara - Pameran Bersama “Hanya Memberi Tak Harap Kembali”

“Hanya Memberi Tak Harap Kembali”
Pameran bersama ruangrupa bekerja sama dengan Kedai Kebun Forum (KKF)

Pembukaan
Kamis, 30 September 2010
Di Ruang Pertunjukan (Lt. 2) KKF
Jl. Tirtodipuran No. 3 Yogyakarta
Jam 16:00 – 22:00 WIB

--- Dimeriahkan oleh : FRIGI FRIGI ----

Pameran
Berlangsung sampai dengan 2 Oktober 2010
Jam 11:00 – 21:00 WIB



Seniman |
Ade Darmawan, Andi RhaRhaRha, Anggun Priambodo, Aprilia Apsari, Andang Kelana, Ardi Yunanto, Ari Dina, Ary Sendy, Bujangan Urban, Daniela Fitria, Hafiz, Haoritsa, Henry Foundation, Indra Ameng, Irwan Ahmett, Iswanto Hartono, Isrol Triono, Julia Sarisetiati, Lilia Nursita, Mahardhika Yudha, Mateus Bondan, MG Pringgotono, Mushowir Bing, oomleo, Oky Arfie, Popo, Rebecca Theodora, Reza Asung Afisina,
Rio Farabi, Rithmi, RM Herwibowo, Ronny Agustinus, Ricky Janitra, Syaiful Ardianto, Saleh Husein, Ugeng T. Moetidjo.





Pengantar
Setelah tujuh tahun ruangrupa tak pernah mengadakan pameran bersama sebagai sebuah kolektif seniman, kali ini dalam rangka perayaan 10 tahunnya, ruangrupa mengundang seniman-seniman yang selama ini kerap terlibat mengerjakan berbagai proyek seni rupa dan program di ruangrupa untuk berpameran bersama dalam sebuah rangkaian pameran keliling di dua ruang seni dan kota yang berbeda. Pameran pertama bertempat di Galeri Soemardja, Bandung, pada 23 – 25 Juli 2010, dan pameran kedua bertempat di Kedai Kebun Forum (KKF),Yogyakarta, pada 30 September – 2 Oktober 2010.

Dalam pameran ini, ruangrupa mengundang 35 seniman untuk berpartisipasi menampilkan karya terbarunya. Para seniman diminta untuk membuat karya seni media ataupun yang memiliki gagasan atas penggunaan seni media. Karya-karya tersebut bersifat terbatas dan meliputi poster, kaos, buku dalam format fotocopy, foto dalam format kartu pos dan kalendar,selebaran, emblem, dan stiker. Karya-karya seni media tersebut akan direproduksi dan didistribusikan selama pameran berlangsung.

Pada saat pembukaan pameran, semua seniman yang berpartisipasi akan hadir dan secara langsung mereproduksi dan mencetak karyanya dan langsung memberikan sekaligus menyebarkan karya dan produknya kepada pengunjung pameran di KKF.

Selain itu, selama pameran berlangsung akan disediakan sebuah komputer sebagai bank data dan gambar. Seluruh akses atas bank data dan gambar tersebut akan dibuka secara bebas dan gratis. Karena keterbatasan media penyimpan dan bahan mentah yang ruangrupa sediakan di tempat, maka pengunjung pameran bisa juga membawa media penyimpannya sendiri. Dengan membawa flashdisk, blank cd, kertas ukuran A3 dan A4 100 gr, dan kaos masing-masing, seluruh pengunjung dapat memiliki data-data pribadi dan karya para seniman yang tersimpan di sana, yang terdiri dari gambar, video, audio, dan teks. Namun apabila karya yang tersedia secara gratis sudah habis, pengunjung bisa mengakses karya yang diinginkan dengan hanya mengganti ongkos cetak sekedarnya atau seharga membeli bahan mentah.


------------------------------------------
Kedai Kebun Forum and Restaurant

Jl. Tirtodipuran No. 3 Yogyakarta
Java Indonesia 55143
Phone : +62 274 376114
E-mail : kkforum@indosat.net.id
website : www.kedaikebun.com

Open Hour : 11:00 am - 11:00 pm
Open everyday, except on Tuesday, KKF breaks-off
-----------------------------------------

acara - Pertunjukan “JARANAN KESURUPAN SAMPAH PLASTIK”

Kondisi Telaga Ngebel Ponorogo, yang saat ini penuh dengan sampah menjadi sumber inspirasi Imam Mahfud, koreografer muda asal Yogyakarta, peraih Hibah Seni Kelola – Hivos 2010 untuk kategori Karya Inovatif.

Visualisasi legenda Telaga Ngebel didukung 24 penari akan menghidupkan pertunjukan berjudul “JARANAN KESURUPAN SAMPAH PLASTIK”, dimana sikap tidak peduli masyarakat desa terhadap alam dan mahluk hidup sekitarnya membuat desa Ngebel terkubur air. Air tersebut berasal dari lidi yang berhasil dicabut oleh seorang anak kecil penjelmaan ular yang dipotong-potong untuk keperluan pesta dalam sebuah sayembara pada pesta di rumah calang Ngebel.

Pertunjukan “JARANAN KESURUPAN SAMPAH PLASTIK” tidak memungut biaya, dan akan dilaksanakan pada :

Hari / Tanggal : Sabtu, 2 Oktober 2010
Pukul : 20.00 WIB
Tempat : Pendopo Blumbang Garing
RT 4 Nitiprayan, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul,
Yogyakarta

Selamat menikmati dan sampai jumpa pada pentas yang didukung oleh program Hibah Seni Kelola yang didanai oleh HIVOS.

Teriring salam,
KELOLA untuk seni dan budaya
Jl. Cikatomas II no. 33, Kebayoran Baru.
Jakarta 12180 – INDONESIA
e-mail: info@kelola.or.id
Web : www.kelola.or.id

acara - BINCANG-BINCANG SASTRA EDISI-60 PAGELARAN MUSIK DAN SASTRA

Bincang-bincang Sastra (BBS) Studio Pertunjukan Sastra Yogyakarta telah memasuki edisi ke-60. Artinya, 5 Tahun sudah perjalanan Studio Pertunjukan Sastra (SPS) Yogyakarta dalam "mengawal geliat sastra Jogja"

Pagelaran Musik dan Sastra karya kelompok dan seniman Yogya akan tampil untuk memeriahkan 5 tahun BBS.
- Dangdut/Dugem Puisi oleh Dewo PLO dkk
- Acapella Mataraman oleh Pardiman Djoyonegoro dkk
- Teater Gedhek
- Sastra Gerak oleh Jemek Supardi
- Musik Puisi Komunitas As-Sarkem

Selain itu juga akan diadakan pameran poster kegiatan BBS selama 60 edisi dan pameran buku

acara akan berlangsung pada Sabtu, 25 September 2010, Bertempat di Gedung Societet Taman Budaya Yogyakarta pada pukul 19.00-22.00 wib

info:
http://www.facebook.com/event.php?eid=155832521113508

Kamis, 23 September 2010

info lomba - The United States and Canadian International Photo Contest For Kids

The United States and Canadian International Photo Contest For Kids begins August 2, 2010, and ends November 1, 2010 (the “Entry Period”). All Mail-in Entries must be postmarked by November 1, 2010, and received by November 8, 2010. Online Entries must be submitted by 11:59pm (ET) on November 1, 2010. Mail-in Entries and Online Entries shall be referred to herein as “Entries” collectively. Entries become the property of Sponsor and will not be returned or acknowledged. Information on how to enter and prizes form part of these official rules (“Official Rules”). This is a skill-based contest and chance plays no part in the determination of winners.

Contest is open only to legal residents of the United States (excluding residents of Puerto Rico) and Canada (excluding Quebec) who are between the ages of 6 and 14 on November 1, 2010. Employees of Sponsor, Tourism Toronto/Toronto Convention & Visitors Association (“TCVA”), the Delta Chelsea Hotel, Toronto CityPass, and their affiliates and subsidiaries, and their immediate family members (spouse, parent, child, sibling and their respective spouses, regardless of where they live) or persons living in the same households of such individuals, whether or not related, are not eligible to enter or win a prize. CONTEST IS VOID IN PUERTO RICO AND QUEBEC AND WHERE PROHIBITED. MANY WILL ENTER; FEW WILL WIN

more info: kids.nationalgeographic.com/kids/contests/photo-contest-rules/

Beasiswa India TATA INNOVATION FELLOWSHIP 2010

Applications are invited for “Tata Innovation Fellowship”, a highly competitive scheme of the Department of Biotechnology (DBT), Ministry of Science & Technology, Government of India.

Objective :

1. The scheme is aimed at rewarding interdisciplinary work where major emphasis is on innovation and translational research with a potential towards commercialization.

Eligibility

2. The fellowship is open to Indian Nationals residing in India who are below the age of 60 years

3. The applicant should possess a Ph.D degree in Life Sciences, Agriculture, Veterinary Sciences or a Master’s degree in Medical Sciences, Engineering; or an equivalent degree in Biotechnology/related areas. The applicant must have adequate professional experience in the specific area and demonstrated leadership towards innovation.

4. The candidate must have a regular position in a University/ Organization /Institute/ and should be engaged in research and development. If he/she is availing any other fellowship (national/international), he/she will have to opt for only one of the fellowships (for example JC Bose fellowship, Welcome Trust, Bill & Melinda Gates Foundation, NIH Senior fellowship, Howard Hughes Medical Institute fellowship and others of similar nature)

About the fellowship

5. The amount of the fellowship will be Rs.20,000/- per month in addition to regular salary from the host institute.

6. In addition, each fellow will receive a contingency grant of Rs. 5,00,000/- per annum for meeting the expenses on consumables, minor equipment, international and domestic travel, manpower and other contingent expenditure to be incurred in connection with the implementation of research project under the fellowship.

Host Institution

7. The Institution where the candidate is working would provide the necessary infrastructure and administrative support for pursuing the research under this fellowship. The candidate will continue to work at the place of his/her employment.

Duration

8. The duration of the fellowship will be initially for three years, extendable further by two years on a fresh appraisal.

How to apply

9. Application (one copy) may be sent as per proforma downloadable from DBT website (www.dbtindia.nic.in) and duly forwarded by the competent authority to Dr. Meenakshi Munshi, Joint Director, Department of Biotechnology, Biock-2, T Floor, CGO Complex, Lodhi Road, New Delhi -110 003, Email :- meenakshi29.dbt@nic.in latest by 3Oth September, 2010. Other details regarding the fellowship may be seen at www.dbtindia.nic.in / www.dbtindia.gov.in.

info lomba - Lomba & Workshop Fotografi Festival Salihara 2010

Lomba foto Festival Salihara 2010 berlangsung sepanjang dan tentang Festival Salihara 2010, yang diadakan pada 23 September-20 Oktober 2010. Peserta akan mendapatkan tanda khusus agar dapat mengakses seluruh area di Komunitas Salihara, termasuk tempat acara Festival Salihara.

Ketentuan:

* Terbuka untuk umum, tidak terbatas usia dan jenis kamera
* Memiliki kamera dan dapat hadir di seluruh sesi workshop
* Pendaftaran melalui dita.salihara@gmail.com selambatnya 21 September 2010

Pengumuman pemenang: 25 Oktober 2010. Foto hasil para pemenang akan ditayangkan dan dibahas di www.salihara.org serta www.fotografer.net. Selain itu, pemenang akan mendapatkan sertifikat, serta voucher menonton pertunjukan-pertunjukan di Komunitas Salihara.

Juri: Oscar Motuloh, Fitra Pranadjaja, Agah Permadi, dan R. Bagaskara Arya Pramuka.

Lomba foto ini didukung oleh Galeri Foto Jurnalistik Antara.


Workshop Fotografi

Diadakan di Serambi Salihara

* Minggu, 3 Oktober 2010, 16.00 WIB: Olahan Digital Seri 1
* Minggu, 10 Oktober, 16.00 WIB: Olahan Digital Seri 2
* Minggu, 17 Oktober, 16.00 WIB: Pembahasan Hasil Foto


Untuk keterangan lebih lanjut, dan informasi mengenai program lengkap Festival Salihara 2010, silakan hubungi dita.salihara@gmail.com atau melan@salihara.org.

Sampai bertemu di Komunitas Salihara!

Komunitas Salihara; Jl. Salihara 16, Pasar Minggu, Jakarta Selatan 12520. Tel. 021-789-1202.

info lomba - Lomba Membuat Logo ASEAN

Kriteria Logo

1. Logo Keketuaan Indonesia di ASEAN tahun 2011 mengandung unsur-unsur Peran Indonesia dalam ASEAN, Komunitas ASEAN 2015, dan manfaat ASEAN pada masyarakat.
2. Ide asli, belum pernah dipublikasikan dan diikutsertakan dalam lomba yang lain.
3. Logo harus mengandung lambang ASEAN. Lambang ASEAN yang digunakan harus sesuai dengan yang asli (dapat dilihat di www.aseansec.org/7095.htm)
4. Desain berwarna.
5. Logo dilengkapi dengan penjelasan dan makna logo.

Persyaratan Lomba

1. Terbuka untuk WNI, tidak dipungut biaya, melampirkan identitas diri/ fotocopy KTP dan nomor telepon/e-mail yang dapat dihubungi
2. Desain logo dikirim dalam bentuk soft copy (Corel Draw atau Adobe Illustrator) ke:
lombalogo.djksa@gmail.com dan hard copy dicetak di kertas foto glossy A4 dikirim dalam amplop tertutup dengan tulisan LOGO ASEAN 2011 paling lambat tgl 25 September 2010 (cap pos) kepada:

PANITIA LOMBA LOGO KEKETUAAN INDONESIA DI ASEAN TAHUN 2011
Sekretariat Direktorat Jenderal Kerja Sama ASEAN, Lantai 9
Kementerian Luar Negeri RI
Jl. Taman Pejambon no. 6
Jakarta Pusat

Satu Pemenang akan mendapatkan penghargaan dan hadiah menarik lainnya yang diumumkan pada website Kemlu (www.deplu.go.id) bulan Oktober 2010.
Keputusan dewan juri adalah mutlak dan tidak dapat diganggu gugat. Hak cipta semua desain yang masuk sepenuhnya menjadi milik Direktorat Jenderal Kerja Sama ASEAN.

Beasiswa 2 Scholarships, 9 PhD Student Fellowships, Postdoctoral Fellow in Biology

2 Scholarships, 9 PhD Student Fellowships, Postdoctoral Fellow in Biology
The Research Training Group
“Alteration and element mobility at the microbe-mineral interface”
at the Friedrich Schiller University of Jena, Germany offers

2 scholarships
starting on 1 October 2010 and is limited for 12 months,

9 PhD student fellowships
starting on 1 November 2010 and limited for 3 years,

a Postdoctoral fellow
starting on 1 October 2011 and limited for 2 years.

Since the research subject of microbial impact on weathering, reactive transport and remineralization is strictly interdisciplinary, the faculty comprises three geological, one mineralogical, two soil science, one chemical and two microbiological expert groups. With this research profile, a PhD program is established that is characterized by its scientific excellence and strong international context and that will stimulate interaction between students coming from different scientific disciplines.
Applicants for the scholarships have to show that they are among the 5% top graduates of their bachelor year, applicants of the PhD student fellowships should have an excellent diploma or MSc (more than 80%) in the field of biology, geology, chemistry or comparable certification.

Vacant PhD projects:
• Microbial influence on sorption of heavy metals to Fe-, Mn-, Al-(oxi)hydroxides
• Bioconversion of mobile organo-mineral geosorbents: microbial effects on reactivity and mobility
• Linking iron cycling to the stabilization and spatial distribution of soil organic matter
• Investigation of the microbial mineralization process by means of spectroscopical methods
• Mineral transformation and biomineralization with stibnite and tetrahedrite
• Microbial formation of heavy metal containing secondary minerals
• Biomolecular mechanisms of Corg mobilization
• Investigation of the microbial impact on the alteration and degradation of clay minerals
• Understanding the mechanisms of organic matter degradation from black pelites

Vacant Postdoctoral project:
• Proteins involved in bioconversion, biomineralization or biodissolution

Further information you find at http://www.gk-alteration.uni-jena.de link Recruitment/Applications. Send your electronical application including the application form to katrin.krause@uni-jena.de, deadline except for postdoctoral fellow 25 September 2010.