Tampilkan postingan dengan label photos. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label photos. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 Februari 2011

Poligami dalam Visualisasi Sinclair


Image Source: http://www.viiphoto.com/showstory.php?nID=1186

Berbicara masalah gender, nampaknya poligami tidak akan pernah habis untuk dibahas. Silih berganti, berita-berita tentang poligami meramaikan media. Gaungnya tidak pernah berhenti seiring dengan semakin banyaknya aktifis gender dan masih banyaknya praktek-praktek poligami di masyarakat.

Sebuah liputan yang cukup mengejutkan dipublikasikan setahun lalu oleh Stephanie Sinclair. Dia adalah pewarta foto lepas yang mendapat kesempatan untuk mendokumentasikan kehidupan keluarga poligami di Amerika Serikat. Tahun lalu, foto-fotonya telah diterbitkan oleh National Geographic dan New York Times. Tak ayal, liputan ini menjadi perbincangan hangat karena praktek poligami dilarang (ilegal) di Amerika Serikat.

Sinclair mengabadikan ratusan foto keluarga Joe Jessop, seorang penganut Kristen Fundamentalis di Hildale, Amerika Serikat. The Fundamentalist Church of Jesus Christ of Latter-Day Saint (FLDS), adalah sekte yang muncul pada tahun 1990an akibat permasalahan poligami dengan gereja maenstreem Mormon.

Foto-foto Sinclair selalu menarik menurut saya, perspektif yang dibawanya seringkali mengusik dan berbeda dari kebanyakan fotografer lain. Dia sangat piawai mengawal isu-isu yang seringkali mendera kaumnya. Sebagai seorang fotografer wanita, dia memiliki kepekaan lebih ketika meliput masalah poligami, kekerasan terhadap perempuan dan isu-isu gender lain. Foto-foto yang ia dapat sama sekali tidak terlihat adanya jarak antara dia dengan subjek fotonya. Semua terlihat alami dan sangat intim. Lihat saja beberapa foto yang memperlihatkan subjek wanitanya terlihat tidak terganggu ketika dipotret di ruang-ruang pribadi mereka.

Selain itu, foto-fotonya juga sangat santun, ketika poligami seringkali diidentikkan dengan penindasan terhadap hak-hak kaum wanita, Sinclair tidak terjebak dengan subjektifitas ini. Hampir kesemua fotonya menampilkan visual yang indah-indah, keceriaan dan kesenangan, namun dia tetap tidak melupakan bingkai poligaminya. Sehingga, foto-foto ini terlihat sangat dalam, apalagi dikontekskan dengan negara dimana subjeknya tinggal, Amerika Serikat yang notabene sangat liberal dan menjunjung tinggi persamaan Hak Azasi Manusia.

Lagi-lagi saya mengatakan bahwa Sincalir memang hebat dan sangat beruntung menangani project ini. Dia adalah satu-satunya fotografer yang berhasil mendekati dan berhasil membuat liputan foto tentang keluarga ini, pun hasilnya sangat luar biasa. Saya belum mendapatkan referensi yang cukup banyak tentang bagaimana akhirnya Sinclair mendapatkan akses untuk mendokumentasikan kehidupan keluarga poligami ini. Yang pasti, terpublikasikannya foto-foto ini sedikit banyak akan mempengaruhi kehidupan keluarga ini. Beberapa pria pelaku poligami dari sekte yang sama dengan Joe sudah diadili di persidangan. Bahkan Warren Jeffs, pemimpin sekte FLDS masuk dalam sepuluh buronan FBI yang paling dicari-cari. Saya hanya tidak habis pikir bagaimana akhirnya Joe mau kesehariannya didokumentasikan oleh Sinclair padahal jelas-jelas ini sangat berbahaya bagi keluarga besarnya. Tidak ada sedikitpun ekspresi kegelisahan yang ditampilkan dalam visual keluarga Joe. Bahkan Joe sendiri terlihat sangat menikmati atas posisinya sebagai subjek, terlihat sekali dalam sebuah frame yang menampilkan dia beserta kelima istri, 46 anak dan 239 cucunya. Terlebih salah satu quotenya menegaskan hal ini "I've had a blessed life. I wouldn't trade places with anyone."

Tak heran jika Sinclair manjadi satu-satunya fotografer wanita di jajaran nama-nama besar seperti James Nachtwey dan John Stanmeyer di VII Photo Agency, karya-karyanya selalu berbeda, unik, dan menarik untuk dikaji. Liputannya tentang poligami adalah satu dari banyak isu gender yang ia kawal dengan pandangan wanitanya. Beberapa karyanya bahkan mendapat penghargaan-penghargaan bergengsi seperti Worldpess Photo dan UNICEF's Photo of the Year.

Referensi:
http://www.stephaniesinclair.com/bio.php
http://www.viiphoto.com/showstory.php?nID=1186
http://ngm.nationalgeographic.com/2010/02/polygamists/sinclair-photography

Selasa, 01 Februari 2011

Sego Jagung Mbah Joyo

Di pinggir jalan dekat Alun-alun Temanggung, seorang nenek berumur 80 tahun sedang ‘khusyuk’ meracik makanan. Menggunakan pincuk (terbuat dari daun pisang yang dilapisi koran), Mbah Joyo menyajikan makanan khas Temanggung yang sudah sangat jarang ditemui, sego jagung. Jagung giling rebus, sayur pepaya muda, tahu dan ikan asin dicampur jadi satu.

Sudah dua puluh tahun lebih Mbah Joyo berjualan sego jagung. Awalnya, Mbah Joyo berjalan keliling kota menjajakan dagangannya, namun sejak taun 80an mulai menetap di depan pertokoan dekat Alun-alun Temanggung. Langganannya banyak, bahkan tidak sedikit yang berasal dari luar kota.

Silahkan mampir, dijamin JOSS!! #gurihgurihgalau hihiiiii







Jumat, 24 September 2010

Photos - Rumah Kami, Pagi Ini

Sayup sayup gemericik hujan perlahan menghilang. Kaos kaki, kaos tangan, jaket tebal dan selembar alas terbuat dari rajutan rotan melindungiku dari cuaca dingin semalaman. Bisa kurasakan kerasnya perjuangan rotan itu bertarung melawan aliran dingin di lantai ruangan tiga kali tiga meter ini. Sedangkan disekelilingku ada tumpukan buku, koran bekas, dan arsip-arsip yang beberapa terburai dari dua almari ukuran besar. Malam tadi mereka berisik sekali, sepertinya mereka sedang bertarung melawan usia, sudah bertahun-tahun mereka mendiami ruang ini, kelembapan membuat mereka semakin sering merintih. Aku sebagai penghuni baru, tidak berani-berani mengusik, sepertinya diam dengan mata terpejam adalah pilihan yang paling bijak, mengantarku ke dimensi yang berbeda.

Partikel terang mulai berpendar dan mengusik khayalan-khayalan yang kurajut sejak empat jam yang lalu. Kuloloskan mereka memasuki pupil mataku, menerobos dengan ganas bahu membahu, menyentak. Luar biasa, dalam hitungan detik partikel-partikel itu berubah menjadi spirit, menggerakkan sel-sel yang sedang mati suri. Semua kembali bekerja, organku hidup kembali, kugerakkan tanganku perlahan, meraba kiri kanan. Kudapatkan apa yang aku mau, 05:15.

Kulangkahkan kaki keluar dari ruangan ini menuju ruang tengah, sesosok manusia masih asik dengan mimpi-mimpinya, begitu juga di ruang tamu dan ruang komputer, beberapa ada yang saling membelakangi, ada pula yang diatas kursi. Nyawa mereka masih melayang-layang di loteng, menari-nari seperti balerina. Kubiaran mereka, kuurus mukaku yang bau rotan, bersentuh air dipojok kamar mandi. Aku benar-benar hidup.

Kumasuki lagi ruangan dimana aku menyimpan mimipi-mimpi semalam, kugelar kain panjang, kuangkat kedua tanganku, perlahan aku sudah terhanyut dalam komunikasiku dengan Tuhan. Kulantunkan syair cinta kepada Dzat yang memberiku kehidupan.

Satu dua kehidupan mulai terasa, secara bergantian mereka berseliweran di belakangku, hanya dalam tempo seperempat jam saja, kembali sunyi. Ya, mereka hanya terbangun sebentar untuk menyapa Tuhan, kemudian meneruskan kembali episode khayal yang belum sempat klimaks. Sering juga aku demikian, tapi entah kenapa pagi ini suasana membawaku untuk tetap hidup, menggerayangi nuts nuts yang mengalirkan kata-kata di layar depan mataku. Sesekali aku tengok halaman depan lewat jendela bertralis besi ruangan ini, kunikmati pemandangan dedaunan basah hasil cumbuan hujan dan beringin besar. Aroma kelembabannya sengaja aku hirup agar menarik keluar racun-racun dalam organ nafasku, aku selami tiap detik yang menyegarkan ini.

Kuitari seisi rumah kehangatan ini, kulihat wajah-wajah jujur disetiap ruang yang aku singgahi, terbujur kaku, hanya suara udara yang berhembus keluar masuk dari tenggorokan mereka saja yang berirama, indah meski tanpa intonasi. Kurasakan dengan seksama melodi yang tercipta sambil kurekam visual-visual mengagumkan yang terjaring oleh mataku. Ada darah-darah pejuang di dalam tubuh-tubuh mereka, ada nada-nada pemberontak disetiap derap nafas mereka. Manusia-manusia yang menginspirasi dan berpengaruh dalam menentukan langkahku kedepan. Satu hal yang membuatku ada diantara mereka, cinta.

B21, 24 September 2010






Kamis, 19 Agustus 2010

photos - Gegap Gempita Grha Sabha Pramana

also posted on http://www.balairungpress.com/2010/08/gegap-gempita-grha-sabha-pramana-2/


Ribuan mahasiswa baru Universitas Gadjah Mada memadati lapangan Grha Sabha Pramana untuk mengikuti upacara penyambutan, Rabu (18/08/2010). Upacara ini dipimpin langsung oleh rektor UGM, Prof. Ir. Sudjarwadi, M.Eng., Ph.D . Turut memeriahkan acara, penampilan beberapa buah lagu oleh Marching Band UGM serta penyerahan penghargaan kepada mahasiswa-mahasiswa berprestasi diajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional.










Senin, 09 Agustus 2010

photos - trapped face

if you think that life is good ...
if you think that freedom is the right ..
if you think that the world of infinite space ..
so also with me ..

if you think that wander are preferred ..
if you think that the vegetation is healthy ..
if you think that love is beautiful ..
so also with me ..

if you think that the dispute is fair ..
repression is the phase ..
and if you think that the stronger is the winner ..
so i was the loser









Jumat, 07 Mei 2010

photos - Student Action

Yogyakarta, 3 / 5 - STUDENT ACTION. Hundreds of students joined in the BEM KM and KAMMI staged a demonstration to welcome the arrival of Vice President Boediono around Boulevard UGM, Monday (3 / 5). They demanded Boediono to resign from his position in goverentment related with the bailout century cases.







Kamis, 06 Mei 2010

photos - Kota Lama Semarang

It is incomplete, when visit to Semarang without walk around the old buildings in Kota Lama. These buildings mark the beginning of the formation of the entire government and economic activity in Central Java. At that time, the Dutch made this region as a trading center, where access can be connected with the sea by river which surrounds these buildings up to Pecinan. Whereas in the case of government affairs, the Bleduk Church became the center, remember when the church was involved in government.
Unfortunately, during the rainy season, this area is often inundated caused at least water infiltration and that there is poor sanitation. In fact, if treated properly, it is not impossible the Kota Lama will be the history of assets that benefit tourism industry in Semarang City Government.

These photos were taken in a series of events "Hunting Imlek" with Photography Unit UGM (UFO), February 2010.