Kamis, 17 Februari 2011

The Bicycle Thieves: Ketika Korban Menjadi Pemeran


Ladri di Biciclette, sebuah film neorealis tahun 40an yang diangkat dari kehidupan sehari-hari, sarat makna dengan segala kesederhanaannya. Ladri di Biciclette atau yang lebih populer disebut Bicycle Thieves merupakan film buatan Vittoria De Sica yang menceritakan tentang keadaan Italia pasca perang dunia kedua. Fokus kepada sebuah keluarga miskin yang mati-matian mempertahankan harta berharganya, sepeda. Meski hanya mengangkat hal yang remeh temeh, justru di sisi inilah yang mendekatkan film ini dengan penontonnya. Bolehlah kita mengatakan kalo inception itu keren, alurnya tidak beraturan, perlu ekstra berfikir untuk mencernanya, tetapi inception jelas kalah jauh dalam hal kedekatan dengan penonton. Inception mengangkat hal-hal abstrak tentang konsep mimpi, sesuatu yang jauh dari angan-angan manusia, sedangkan Bicycle Thieves terlalu jujur dengan cerita pencuri sepeda yang mungkin saja kita bisa mengalaminya.

Tidak ada efek-efek komputer yang maha canggih, tidak ada artis seksi macam Cameron Diaz, tidak ada lighting-lighting buatan, dan tidak ada – tidak ada lain yang ada pada film-film mutakhir. Lagi-lagi tentang kesederhanaan, film berdurasi 93 menit ini tidak menyuguhkan scene yang amazing, masih menggunakan film hitam putih. Lamberto Maggiorani sebagai pemeran utama dan aktor-aktor lainnya dibiarkan tampil natural tanpa makeup dalam film ini. Setting Itali sebagai negara yang kalah perang sepertinya mampu menampilkan scene-scene lebih dramatis daripada efek-efek komputer nan canggih. Begitu juga pemeran yang terlibat, mereka bukanlah manusia-manusia yang bisa dikatakan menarik secara mata bak artis-artis hollywod.

Film ini bearawal ketika Antonio Ricci yang diperankan oleh Lamberto Maggiorani mendapatkan pekerjaan sebagai penempel poster. Masalah pertama muncul saat pekerjaan yang dilimpahkan kepadanya mewajibkan untuk memiliki sepeda. Ricci yang tidak memiliki sepeda pulang dengan wajah muram karena takut kesempatan yang didapatnya akan sirna diambil orang lain. Di sini, Maria istri Ricci yang diperankan oleh Lianella Carell tampil begitu menyentuh dengan menjual semua sprei untuk ditukar dengan sepeda.

Naasnya, dihari pertama Ricci bekerja, sepeda yang dibeli dengan susah payah tersebut digondol pencuri ketika Ricci sedang bekerja menempel poster. Posisinya yang berada di atas tangga menguntungkan pencuri bertopi Jerman untuk segera melesat melarikan diri hanya dalam sekejap mata. Ketika itu juga Ricci dengan sekuat tenaga mengejar pencuri sepeda dengan berlari, menumpang mobil lewat, hingga pengejarannya nampak sia-sia.


Scene-scene berikutnya manampilkan usaha keras Ricci dan anaknya Bruno menyusuri Roma dengan harapan sepeda itu bakal ditemukan. Dibantu temannya, Ricci mendatangi pasar barang bekas, dengan teliti mereka perhatikan satu persatu semua barang ditempat itu. Sampai akhirnya dia melihat kakek tua sedang bertransaksi dengan seseorang yang ia duga sebagai pencuri sepeda. Kejar-kejaran pun terjadi, sayangnya pencuri tersebut tidak tertangkap.

Ricci yang mulai emosi mendatangi kakek-kakek tadi dan memaksanya untuk menunjukkan dimana pencuri itu berada. Akhirnya kakek tersebut mau buka mulut, Ricci mendatangi pencuri sepeda itu dan melabraknya. Untuk kesekian kali Ricci harus menerima kenyataan, pencuri tersebut sangat licik dengan pura-pura sakit, orang-orang yang mulai berkerumun tidak percaya bahwa pencuri itu mencuri sepeda Ricci. Polisi yang dipanggil Bruno juga tidak bisa berbuat apa-apa karena tidak ada bukti yang menguatkan.

Film ini berakhir tragis dengan aksi Ricci yang pada akhirnya memerankan posisi pencuri itu sendiri. Frustasi dengan cobaan yang datang bertubi-tubi, Ricci melihat ada kesempatan untuk mencuri sebuah sepeda yang diparkir di sudut kota yang sepi. De Sica memberikan ending yang sangat bagus dengan kegagalan pencuri amatir ini. Terlebih ketika scene yang memperlihatkan Bruno menangis terisak melihat ayahnya dikeroyok massa. Beruntung si pemilik sepeda memaafkan Ricci karena tidak tega melihat Bruno menangis.

Natural, simpel, sederhana dan dekat itulah gambaran tepat untuk mendeskripsikan film ini. Dari situlah kekuatan film jujur ini. Tidak salah jika film ini mendapatkan banyak penghargaan bergengsi kelas dunia, bahkan sebagai film terbaik sepanjang masa.

image source:
http://3.bp.blogspot.com/_yVQM06R-GRQ/SxKj-STpvcI/AAAAAAAAAPY/IIwMrlfsoQA/s1600/BICYCLE+THIEF.jpg
http://www.moviediva.com/MD_root/MDimages/Copy_of_BikeT2.jpg

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar