Kamis, 17 Februari 2011

Eksplorasi Teknik di balik Teka-Teki Rosebud


Rosebud. Awal yang bagus untuk menggiring penonton menanti-nanti ada apa dibalik kata-kata ajaib ini. Ya, 120 menit film ini hanya menceritakan tentang teka-teki rosebud yang diucapkan seorang milyader Amerika bernama Kane sebelum kematiannya.

Tidak ada yang spesial dari film ini jika kita bandingkan dengan film-film terkini, bahkan cenderung membosankan. Hal ini wajar, setiap hari kita sudah teracuni dengan produk-produk Hollywood yang memanjakan indra kita secara sempurna.

Memang, film ini bukan untuk dinikmati, tapi untuk dikaji. Banyak hal yang bisa ditelisik jika kita melihat dari sudut pandang teknis pembuatan film dikontekskan dengan waktu. Citizen Kane menjadi salah satu tonggak awal kemajuan teknis pembuatan film, eksplorasi yang dilakukan Orson Welles sang sutradara menjadikan film ini nampak berbeda dan evolusioner di zamannya.

Di awal, Orson Welles memperlihatkan teknik focussing object dalam film ini dengan menampilkan sebuah papan yang tergantung di pagar. Sebuah teknik yang digunakan untuk memberikan penekanan terhadap sebuah benda yang dianggap sebagai point of interest dari sebuah scene. Meski hanya di bagian ini saja penggunaan teknik focussing, pun tidak sempurna, setidaknya film ini telah memperkenalkan adanya variasi-variasi lain dalam pengambilan sebuah adegan.

Begitu juga dengan eksplorasi sudut pengambilan gambar(angle). Meski eye level masih sangat dominan, namun gerak kamera mengikuti gerak adegan sudah bisa dibilang luwes dan tepat. Misal ketika adegan yang memperlihatkan kemegahan Xanadu, gerakan kamera dan zooming out terasa sangat tepat menciptakan efek dramatis. Begitu juga dengan beberapa angle unik seperti saat scene pembantu Kane memasuki kamar dari sudut pandang refleksi benda mengkilap yang jatuh di lantai.


Flashback dipadu dengan durasi yang panjang mungkin menjadi hal yang paling revolusioner kala itu mengingat sebelumnya belum ada satupun film yang menggunakan alur maju mundur, lama pula. Sayangnya, dalam penerapan alur ini masih belum bagus sehingga cerita terkesan berantakan dan membingungkan. Kebosanan juga sudah memuncak sebelum mencapai klimaks di akhir cerita. Apalagi backsound yang digunakan juga masih monoton khas film lawas dengan alat musik yang terdengar menyayat-nyayat.

Kelemahan itu tentu wajar adanya melihat waktu itu belum ada teknologi canggih seperti sekarang. Secara keseluruhan teknis pembuatan film, Orson Welles berhasil memanfaatkan teknologi yang ada untuk membuat karya luar biasa yang menginspirasi sineas-sineas lain untuk terus mengeksplor berbagai macam teknik.

Dari isi cerita, Citizen Kane sangat bagus membawakan pesan “harta bukan segala-galanya”. Keterpurukan Kane tak lain karena dia menganggap bahwa dengan uang dia mampu memberikan kebahagian kepada istri-istri dan anaknya, namun pada kenyataannya, satu per satu mereka pergi meninggalkan Kane. Akhirnya, dalam kesendirian menjelang detik-detik kematiaanya, Kane baru menyadari bahwa kebahagiaan yang ia bangun berlandaskan materi itu semu. Hingga ia kembali menerawang jauh ke belakang di masa kecilnya, ketika sebuah kebahagian hadir hanya karena sebuah papan seluncur bertuliskan rosebud.

image source:
http://www.edzards-filmriss.de/wp-content/uploads/2010/07/citizen-kane-poster.jpg
http://www.oddfilms.com/blog/media/Citizen-Kane-globe.jpg

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar