Senin, 21 Februari 2011

Iron Man=Hollywood=AS??


Image source: http://colinresponse.files.wordpress.com/2008/01/american20ironman1st21.jpg

Film adalah bagian dari sistem ekonomi, juga bagian dari sistem ideologis. Sedangkan bioskop dan seni merupakan cabang dari ideologi tersebut (Jean-Luc Comolli dan Jean Narboni)

Setidaknya, itulah gambaran yang ada saat ini mengenai perfilman dunia. Bahwasanya,tidak ada film yang bisa terlepas dari unsur ideologis penciptanya. Seperti kita tahu bahwa film sebagai salah satu bentuk media massa memiliki peran yang sangat besar dalam penyebaran suatu paham, terutama saat ini dimana penyebaran paham lewat jalan perang yang membabi buta sudah tidak musim lagi.

Comoli dan Narboni berkesimpulan, bahwasnya setiap film merupakan politik. Film mencerminkan ideologi tertentu, entah itu dalam bentuk paham, kepercayaan(agama), gaya hidup maupun hal-hal lain yang melatarbelakangi produksi film. Bisa saja pesan-pesan ideologis ini disampaikan secara implisit melalui simbol-simbol tertentu, atau memang secara terang-terangan sebuah film mengaku mengusung ideologi tertentu dan ditampilkan secara eksplisit.

Iron Man misalnya, sekuel yang disutradarai Jon Favreau ini selain menyuguhkan keunggulan efek visual, juga sarat akan pesan-pesan ideologis. Sangat kuat mengusung ideologi Amerika, seperti halnya saudara-saudara se-ibu berlabel Hollywood.

Sosok Stark sebagai pemain utama seakan-akan mewakili hegemoni Hollywood atas perfilman dunia. Stark memiliki kekayaan yang melimpah ruah, ketampanan dan kecerdikan menggambarkan keadaan Hollywood yang mempunyai sumber daya berlebih dari sisi financial dan teknologi. Sisi kemanusian yang ditunjukkan Stark yang seperti suka minum dan wanita adalah pesan implisit dari glamournya budaya Hollywood yang serba mewah. Belum lagi posisi Stark sebagai pemilik pabrik senjata yang menyokong militer Amerika dan peran gandanya sebagai hero, manusia berbaju besi. Nampak sangat superior dan berpengaruh. Ya, tak ubahnya hollywood yang adigdaya menelusup disetiap sendi-sendi perfilman seluruh dunia.

Akan lebih politis lagi ketika tidak hanya dikontekskan pada Hollywood, tetapi Amerika sendiri. Bisa dikatakan, Iron Man juga perwujudan dari Amerika yang memiliki peran besar dalam kancah dunia. Cerita-cerita mengenai persaingan dengan Russia juga tergambar dari film ini. Wajar saja, film ini hasil adaptasi komik Marvel produksi tahun 60an yang mana saat itu perang ideologi sedang gencar-gencarnya disuarakan oleh kedua kubu. Iron Man seakan mendengungkan kembali suara-suara perang dingin dengan kontrasnya penokohan Vanko sebagai tokoh antagonis. Vanko yang keturunan Russia digambarkan sebagai sosok yang kotor, penuh tatto, gelandangan teler yang keluar masuk penjara dan berhati busuk ingin menguasai dunia. Sangat berkebalikan ketika disandingkan dengan Stark yang digambarkan tampan dan rapi menggunakan pakaian necis, pembela kebenaran pula. Jelas, ini adalah gambaran kemenangan Amerika atas Russia, bahkan seluruh dunia, yang digambarkan melalui penggunaan setting Afghanistan dalam beberapa scene. Tidak hanya kemenangan ekonomi dan politis, tetapi juga hal krusial macam pengembangan teknologi militer seperti nuklir.

Demikianlah fakta yang terjadi. Negara sekuat Amerika Serikat tidak hanya menguasai meja-meja perundingan. Penanaman ideologi pada film-film mereka dirasa cukup ampuh untuk menduniakan apa yang mereka imani. Juga, cara ini cukup aman dan menyedot banyak perhatian karena pengemasan efek visual kelas satu.

Review artikel Landon Palmer , Culture Warrior: A Marxist Reading of ‘Iron Man 2′
http://www.filmschoolrejects.com/features/culture-warrior-a-marxist-reading-of-iron-man-2.php

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar