Selasa, 22 Februari 2011

Saya, Bantul dan November 1828


image source:http://3.bp.blogspot.com/_YSoVVvP5Qtc/TR1KsXut11I/AAAAAAAAAEA/F0dprqdYVdc/s1600/November_1828.jpg

Awal ketika film ini mulai diputar, saya sempat berfikir film ini sejenis Angling Dharma. Atmosfer yang dibawa memang mirip, tampilan tradisional dengan iringan gamelan khas Jawa. Bahkan di awal saya mulai bosan karena opening terlalu lama. Lihat saja ketika arak-arakan pasukan berjalan melewati persawahan, di scene ini kejenuhan mulai terasa, padahal film baru dimulai.
Satu hal yang membuat saya tetap antusias menonton film dari awal hingga akhir, setting tempat yang digunakan untuk pembuatan film ini berada di Bantul, tempat dimana saya tinggal. Tentu pemilihan lokasi pengambilan gambar ini memang disesuakan dengan kondisi real waktu itu dimana perjuangan memang berada di kawasan Yogyakarta, termasuk Bantul. Ada magnet lebih yang membawa unsur kedekatan psikologis ketika film ini diputar.
Cerita-cerita tentang Pangeran Diponegoro sudah lama saya dapatkan, bahkan jauh sebelum guru SD saya bercerita di kelas IPS. Bagaimana tidak, Goa Selarong, patilasan tempat Pangeran Diponegoro beserta pengikutnya bersembunyi ketika dikejar Belanda hanya sak plinthengan dari rumah saya. Belum lagi kultur masyarakat yang menyakralkan Pangeran Diponegoro. Setiap tahun sekali, diadakan grebeg Selarong sebagai wujud penghormatan kepada sang pejuang. Maka tak heran, film ini menarik bagi saya karena kedekatan yang telah terbangun, meski di awal sedikit jenuh dengan opening yang terlalu panjang.

image source:http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2010/01/23/1750226p.jpg
Terlepas dari latar belakang di atas, film November 1828 produksi akhir dekade tujuh puluhan ini terbilang bagus. Pemilahan pemeran yang brilian menjadikan setiap tokoh yang ada di film ini sangat berkarakter. Kromoludiro yang diperankan Maruli Sitompul misalnya, diperankan sangat apik dengan pembawaan yang khas. Begitu juga El Manik yang berperan sebagai Van Aken, kapten Belanda yang tidak suka terhadap cara-cara Van den Borst, atasannya, yang memperlakukan warga pribumi dengan sewenang-wenang. Karakternya cukup menonjol mengingat peran yang dibawanya unik. Keputusan Teguh Karya menampilkan tokoh ini tepat menurut saya. Secara psikologis tokoh Van Aken sangat kuat. Pengkhianatannya pada Belanda, menggeser perannya ke arah protagonis. Kedekatan emosional dengan penonton inilah yang menjadikan karakternya berbeda. Terlebih, tokoh Van Aken menambah daftar nama orang Belanda yang bersimpati kepada warga pribumi, karena biasanya hanya Douwes Dekker saja yang disebut dalam buku sejarah. Padahal pada kenyataannya, tidak sedikit karakter-karakter sejenis namun tidak pernah terungkap. Setidaknya hal ini mengubah paradigma bahwa tidak semua warga Belanda itu penjajah.
Di samping itu, ada beberapa hal yang kurang menurut saya. Pertama, ada beberapa scene yang sedikit lebay. Adegan pengejaran Bondan oleh pasukan belanda misalnya. Setelah ketahuan memasukkan racun ke dalam makanan, dia dikejar beberapa pasukan. Secara nalar, harusnya dalam tempo singkat harusnya langsung tertangkap, toh larinya hanya berputar-putar di dalam markas Belanda. Sayangnya, Teguh terlalu lama menampilkan scene ini, sehingga kesannya malah mirip adegan kejar-kejaran konyol di kartun Tom and Jerry.
Kedua, tidak munculnya Pangeran Diponegoro. Jujur dari awal saya menunggu-nunggu tokoh ini muncul, tetapi hingga akhir namanya saja yang kerap disebut. Entah apa alasan Teguh tidak menampilkan Pangeran Diponegoro. Saya menduga mungkin Teguh memang sengaja lebih menekankan pada perjuangan rakyat jelata sehingga kemunculannya dirasa tidak perlu. Namun hal ini malah membuat saya berpikir yang tidak-tidak. Jangan-jangan karena penokohan Pangeran Diponegoro yang sangat sakral sehingga tidak ada yang berani memerankannya. Saya jadi teringat Grebeg Selarong yang diadakan tiap tahun di desa saya, meski untuk mengenang jasa Pangeran Diponegoro, namun tokoh ini sekarang tidak pernah muncul. Karena dulu pernah ketika tokoh ini dimunculkan, dua tahun berturut-turut kuda yang ditunggangi tokoh Pangeran Dipenegoro selalu mengamuk. Jangan-jangan karena seperti ini juga??haha..

image source:http://belajarsejarah.com/upload/selarong.jpg

2 komentar:

  1. di desa mana ya tepatnya , tempat lokasi film ini du buat... saya ingin sekali napak tilas tentang Film ini... terima kash..
    From :

    Mahasiswa ISI Yogyakarta, fakultas seni media Rekam , Jurusan Televisi

    BalasHapus
  2. tepatnya kurang tau mas/mba. ada yang bilang di desa sawahan

    Thx

    BalasHapus