Selasa, 22 Februari 2011

Film: Pencetak Uang dan Penjajahan Ideologi


image source: http://noscadgie.files.wordpress.com/2010/01/imperialisme_global.jpg

Tidak berlebihan apa yang dikatakan oleh seorang Perancis melalui Leo Rosten bahwa lewat film, Amerika Serikat telah berpengaruh terhadap penjajahan budaya di dunia. Faktanya, saat ini Hollywood memang tengah merebut pangsa pasar film di seluruh penjuru dunia. Ya, hal ini tak lepas juga dari peran pemerintah Amerika Serikat yang berdiri di belakang mendukung industri hiburan ini untuk mendapatkan keuntungan materi dan penjajahan ideologi.

Cohen berkesimpulan bahwa film-film hollywood sudah menggunakan teknik tinggi (lanjutan) dan lebih banyak dipublikasikan ke seluruh dunia melalui media massa. Berbeda dengan film-film Eropa yang percepatannya lama dalam berkembang, sehingga kepopulerannya kalah dibanding film-film Amerika.

Cohen juga berpendapat bahwa ada perbedaan besar antara sekolah-sekolah film yang dimiliki Eropa dan Amerika. Di Universitas Krakow Polandia misalnya, kurikulum menekankan pada seni liberal dan humaniora. Praktisnya, pelatihan-pelatihan diarahkan pada teknik-teknik penggunaan kamera dan lighting. Berbeda dengan sekolah film di Amerika Serikat. Beberapa sekolah film terbaik Amerika Serikat seperti UCLA dan USCNYU lebih “melatih” daripada “mendidik” sejak awal.

Terjadi perubahan besar sejak awal abad ke 20 dimana bioskop Amerika betul-betul serius dijadikan ladang bisnis. Para pengusaha menyusun formula untuk mengubah “bentuk seni” baru ke dalam komoditas yang menarik pangsa pasar besar. Dimulai dengan menyempurnakan sisi teknologi animasi. Layaknya sebuah produk makanan, pengemasan menjadi hal yang sangat penting untuk menarik pembeli. Penggunaan kantong warna-warni dengan gambar dan tulisan yang mencolok akan menambah daya jual. Begitu juga yang terjadi di Hollywood, efek visual digarap sesempurna mungkin. Hasilnya seperti saat ini, tidak ada yang meragukan lagi kehalusan efek 3D dan jernihnya sound buatan Hollywood. Walau mungkin secara narasi kadang kalah dengan film-film buatan Eropa, tapi bagi para penonton awam yang kurang memperhatikan sisi ini, mereka keburu takjub dengan efek visual yang ditampilkan.

Disamping sisi visual, Hollywood menerapkan sebuah rencana bisnis. Ketika para petinggi studio menyampaikan ide film, mereka membuat semacam formula. Yaitu dengan memberikan script kemudian memerintahkan untuk membuat pertunjukan yang memikat dan membuat kesan baik dalam diri penonton. Sehingga ketika nanti rilis film lain dari studio yang sama, mereka akan berbondong-bondong untuk menonton kembali.

Sisi kenyamanan bioskop juga tidak lupa disentuh. Kursi empuk, pendingin ruangan, dan layar super lebar menjadi hal standar yang wajib dimiliki oleh setiap pemilik jasa pemutaran film. Bahkan hal kecil seperti tersedianya minuman ringan dan sebungkus popcorn akan menjadi aneh kalau tiba-tiba saja dihilangkan. Ya, semua seakan sudah melekat dan membudaya. Budaya siapa? Hollywood tentunya. Persoalan macam popcorn ini memang bukan hal yang krusial, tetapi bisa dijadikan contoh bahwa dari hal-hal yang kecil ini saja Hollywood sudah sangat dekat dengan kehidupan kita.

Review Artikel Saul Landau, The Film Industry : Business and Ideology
http://www.counterpunch.org/landau08022003.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar