Jumat, 04 Juni 2010

acara - Hip! Hip! Hero! Visual Art Exhibition

Dua perupa Yogyakarta, Joko “Gundul” Sulistiono dan Priyaris Munandar, hendak menyuguhkan 14 karya lukisnya di Galeri Apik, di Jl. Radio Dalam Raya No. 30, Jakarta Selatan, 6 Juni hingga 6 Juli mendatang. Mereka bergabung dalam satu perhelatan pameran seni rupa bertajuk kuratorial “Hip! Hip! Hero!” Rencananya, pameran akan dibuak oleh mantan aktivis mahasiswa 1998 yang juga anggota DPR RI, Budiman Sudjatmiko, MSc., MPhil. Dengan special performance Afgan dan Olivia Lubis Jensen.

Secara umum, pameran ini menggagas tentang problem kepahlawanan dalam konteks sosial kemasyarakatan mutakhir atau “hari ini”. Tentu saja dengan modus, cara pandang, dan eksekusi visual mereka masing-masing. Joko “Gundul” Sulistiono lebih banyak membongkar kembali laci ingatan dia (dan masyarakat sebagai bagian dari cerminnya) tentang tokoh-tokoh heroik dalam dunia komik produksi Barat, persisnya figur-figur rekaan Marvel, sebuah perusahaan komik di Amerika Serikat yang mengintroduksikan serial fiksi kepahlawanan. Namun demikian Joko juga mengaduknya dengan seri ingatannya tentang diri dan keluarga yang juga diasumsikan sebagai pemilik spirit “heroisme”.

Joko merupakan seniman yang pada tahun 1999 karyanya berhasil masuk dalam jajaran 5 Besar Kompetisi Indonesia Art Award Philip Morris. Lewat prestasinya itu, dia (bersama 4 seniman lain) berangkat ke Singapura untuk bertarung dengan para finalis kompetisi serupa di tingkat ASEAN. Dia masuk kuliah di Program Studi Seni Lukis, Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia (FSR-ISI) Yogyakarta tahun 1990.

Sementara Priyaris Munandar lebih tertarik untuk mengulik gambaran tentang aspek-aspek heroisme dalam lintasan “sejarah” masa lalu. Dikatakan “sejarah” (dalam tanda kutip) karena Priyaris, secara visual, memberi penekanan pada warna-warna kusam yang berkesan kuno, dengan narasi tentang deretan pasukan atau senjata (perang) yang berjajar ritmis seperti yang banyak dikisahkan dalam cerita sejarah. Namun karyanya ini lepas dari gambaran factual atas sejarah dari kelompok masyarakat tertentu, pada waktu tertentu, dan dalam ikatan konteks ruang yang jelas. Priyaris sekadar menggambarkan “sesukanya” dengan bekal ingatan dan imajinasinya atas kisah sebuah perang yang heroik, dan semacamnya.

Seniman ini tergolong seniman muda yang masih memiliki peluang untuk berkembang dengan baik di kurun waktu ke depan. Tahun ini, salah satu karyanya masuk menjadi finalis dalam kompetisi seni rupa yang prestisius, Indonesia Art Award 2010. Dia juga satu almamater dengan Joko “Gundul” dengan masuk FSR ISI Yogyakarta tahun 1999.

Dua seniman ini, memang menjadi kombinasi yang menarik,. Secara visual tidak menawarkan sebuah keseragaman yang ketat dan monotonitas karena masing-masing membawa dinamika gambar. Sedangkan secara substansial karya mereka seperti tengah membaca dan memaknai kembali gambaran tentang pahlawan dengan perspektif dan imajinasi mereka sendiri. Inilah titik penting dari pameran ini. Pameran ini dikuratori oleh Kuss Indarto.

www.galeriapik.com
+62 21 7204723, +62 812 1062242
galeriapik@gmail.com
fb:http://www.facebook.com/event.php?eid=126898457329924

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar