Jumat, 04 Juni 2010

Sensor Digital: Era Baru Teknologi Fotografi

Mata Kuliah Sejarah Ilmu Komunikasi dan Media

Sepuluh tahun terakhir menjadi masa-masa di mana teknologi digital ter-upgrade begitu cepat, penemuan-penemuan baru dan juga penyempurnaan terjadi beruntun dengan semakin luarbiasanya produk. Begitu juga yeng terjadi pada fotografi, saat ini kamera bukan hanya milik fotografer saja, hampir semua orang memiliki fasilitas ini. Hal ini wajar karena fungsi kamera sudah mulai ditanam pada handphone, laptop, PDA dan gadget-gadget lain. Apalagi saat ini pabrikan-pabrikan kamera sperti Canon, Nikon dan Sony juga sudah meluncurkan produk-produk kamera poket yang sangat ringan, kecil, mudah digunakan dan murah tentunya. Jadi tidak heran ketika seorang anak berumur lima tahun sudah pintar memotret layaknya fotografer professional hanya dengan memencet tombol shutter pada kamera poket atau handphone milik orangtuanya, hasilnya pun bisa langsung dilihat lewat LCD. Tidak hanya itu, hasil foto juga dengan mudah ditransfer ke komputer ataupun gadget lain mengingat bentuknya berupa data biner (file digital), tidak seperti sebelumnya ketika masih menggunakan media film seluloid yang harus melewati proses panjang, cuci-cetak-scan.
Fenomena ini tentu tidak terjadi begitu saja, rentetan penemuan-penemuan baru sejak ratusan bahkan ribuan tahun lalu menjadikan fotografi menjadi sesempurna saat ini. Dimulai dari konsep awal Mo Ti pada abad ke 5 Sebelum Masehi, yang mana dia mengamati sebuah gejala di ruang gelap yang mendasari cara kerja kamera obscura. Dia mendapati refleksi terbalik pemandangan luar ruangan, di dinding ruang gelap melewati sebuah lubang kecil(pinhole). Kemudian pada abad ke 3 Masehi, dengan segala kecerdasannya, Aristoteles menjabarkan fenomena ini untuk mengamati gerhana matahari. Dia menggunakan kulit yang dilubangi kemudian digelar di atas tanah dan memberikannya jarak untuk menangkap bayangan matahari, cahaya menembus dan memantul di atas tanah sehingga gerhana matahari dapat diamati. Begitu pula yang dilakukan seorang ilmuwan Arab Ibnu Al Haitam yang juga menemukan prinsip kerja kamera obscura seperti halnya Mo Ti dan Aristoteles, dia bersama muridnya, Kamal Ad-Din memperkenalkan temuannya itu kepada orang-orang disekelilingnya, dia menggunakan ruangan tertutup yang disalah satu sisinya terdapat sebuah lubang kecil sehingga bayangan benda-benda yang ada di luar ruangan masuk terhantar oleh seberkas cahaya.


cara kerja kamera obscura di awal penemuan


Kamera Obscura Box modern

Baru pada tahun 1558, Giambattista Della Porta, mulai menyebut kotak yang membantu menangkap cahaya itu sebagai kamera obscura, namun sampai tahap ini belum bisa disebut dengan proses fotografi karena media rekam bayangan belum permanen. Satu abad kemudian seorang ilmuwan berkebangsaan Italia bernama Angelo Sala menemukan, apabila serbuk perak nitrat dikenai cahaya, warnanya akan berubah menjadi hitam. Begitu pula yang dilakukan oleh Johan Heinrich Schulse, seorang professor anatomi berkebangsaan Jerman, dia membuktikan bahwa menghitamnya plat perak chloride disebabkan oleh cahaya dan bukan oleh panas, dia mendemonstrasikan fakta itu dengan menggunakan cahaya matahari untuk merekam serangkaian kata pada plat perak chloride, namun sayang dia belum berhasil mempertahankan gambar secara permanen. Kemudian berturut-turut Thomas Wedgwood dan Humphrey Davy juga melaukakn percobaan lebih lanjut menggunakan perak chloride, tetapi mereka juga belum berhasil, plat-plat mereka dengan cepat berubah menjadi hitam.
Akhirnya, pada tahun 1826, Joseph Nicephore Niepce berhasil mendapatkan gambar yang agak kabur dan mampu mempertahankannya secara permanen dengan menggunakan kamera obscura berlensa dan media plat logam berlapis aspal. Merasa belum optimal dengan hasil fotonya, Niepche mengajak Louis Jacques Mande’ Daguerre bekerja sama, namun malang sebelum menghasilkan temuan baru Niepche meninggal dunia. Baru pada tanggal 19 Agustus 1839, Daguerre berhasil membuat gambar permanen pada lembaran plat tembaga perak yang dilapisi iodine yang disinari selama satu setengah jam cahaya langsung dengan pemanas mercury, kemudian plat tersebut dicuci pada larutan garam dapur dan asir suling. Dia dinobatkan sebagai orang pertama yang berhasil membuat foto yang sebenarnya.


Foto pertama yang dibuat oleh Niepce dari jendela rumahnya


Foto pertama yang dibuat oleh Dauggere

Pada tahun-tahun berikutnya penemuan-penemuan baru bermunculan seperti shutter(rana) mulai diperkenalkan William England pada tahun 1887, lahirnya pengusaha sukses legendaris George Eastmen (1854-1932) dengan Kodaknya, penggunaan prisma pada kamera Single Lens Reflect (SLR) tahun 1950, hingga revolusi digital.
Dari sekian banyak penemuan, tentu semuanya memiliki pengaruh besar dalam perkembangan fotografi, terdapat hubungan yang saling mempengaruhi dimana penemuan baru merupakan penyempurnaan dari tahap sebelumnya. Penemuan yang sangat menonjol dan berpengaruh besar adalah dengan ditemukannya sensor digital pertama oleh Willard S. Boyle dan George E. Smith pada tahun 1969. Mereka adalah ilmuwan fisika asal Amerika yang bekerja di Laboratorium Bell di New Jersey. Mereka berdua bekerja sama menemukan sensor pencitra yang dapat mengubah cahaya menjadi titik-titik gambar atau piksel dalam waktu singkat, mereka menyebutnya Charged Couple Device (CCD). CCD ini yang ditanamkan pada kamera digital yang berfungsi menggantikan elemen film seluloid pada kamera analog sebagai sensor penangkap gambar.


sensor pada kamera Nikon D40


sensor pada Olympus E330

Penemuan CCD inilah yang menjadi tonggak awal munculnya era fotografi digital, revolusi teknologi fotografi berkembang sangat pesat, Sony Mavica adalah kamera pertama yang menggunakan sensor digital, namun belum bisa dikatakan sebagai murni kamera digital karena untuk mereview hasil foto harus disambungkan dengan pesawat televisi. Baru pada tahun 1990 pabrikan kamera Kodak menjadi yang pertama kali meluncurkan produk kamera digital, yaitu DSC 100. Namun, kamera-kamera ini sebenarnya masih belum layak pakai dilihat dari segi hasil yang tidak tajam, hal ini dikarenakan resolusi kamera masih sangat rendah, yaitu dibawah 1 megapixel. Berlanjut ditahun-tahun berikutnya pabrikan-pabrikan kamera seperti berlomba menelurkan produk-produk inovasi terbaru mereka, tidak ketinggalan pula digitalisasi pada kamera SLR dan berikutnya hingga saat ini hampir semua produk digital menggunakan kamera sebagai fungsi tambahan seperti pada handphone maupun laptop.
Berkembangnya fotografi digital memberikan dampak yang luar biasa besar bagi kehidupan manusia. kemudahan akses informasi dan komunikasi saat ini tidak bisa dipisahkan dari fotografi digital, kepraktisan yang ditawarkan membuat semua proses kefotografian menjadi lebih singkat dan efisian yang tentu berpengaruh pula pada industri-industri yang berhubungan dengan fotografi, media contohnya. Sebagai contoh adalah penggunaan kamera digital bagi para fotografer media, dengan menggunakan kamera digital, mereka dengan mudah memotret kejadian-kejadian yang mereka liput dengan sesuka hati, maksudnya tanpa takut kehabisan film, selain itu juga hasil foto yang bisa langsung dilihat memungkinkan fotografer untuk melihat fotonya saat itu juga sehingga jika hasil foto kurang memuaskan bisa segera mengambil lagi, tentu hal ini berpengaruh pada hasil akhir, foto-foto yang ditampilkan di media semakin berkualitas. Tidak hanya itu, saat itu juga, fotografer bisa langsung mengirimkan foto-foto hasil jepretannya untuk segera dikirim ke kurator untuk dimoderasi dan dipublikasikan di media. Maka tidak heran jika tidak kurang dari tiga puluh menit, beberapa situs berita dengan cepatnya menyajikan kejadian yang baru saja terjadi, lengkap dengan fotonya.
Hal lain yang lebih akrab dengan kehidupan masyarakat adalah terintegrasinya kamera pada gadget digital seperti handphone, PDA dan laptop. Tanpa adanya kamera, banyak fasilitas seperti perekam video, video calling atau bahkan teleconference dan pengolahan gambar lainnya tidak bisa dilakukan. Bisa dibayangkan betapa penemuan sensor digital mempunyai andil besar dalam perkomunikasian saat ini. Atas penemuan sensor digital ini, tidak salah jika pada tahun 2009 kemarin Boyle dan Smith mendapatkan nobel dalam bidang fisika.


Daftar Pustaka
Buku
Ajidarma, Seno Gumara. 2003. Kisah Mata. Yogyakarta: Galang Press
Alwi, Audy Mirza. 2004. Foto Jurnalistik. Jakarta: PT Bumi Aksara
Drajat, Ray Bachtiar. 2008. Ritual Fotografi. Jakarta
Govern, Thomas Mc. 2003. Belajar Fotografi Hitam Putih dalam 24 Jam. Terjemahan: Armunanto Eko. Jakarta: Penerbit Andi.
Nugroho, R Amien. 2006. Kamus Fotografi. Yogyakarta: Penerbit Andi
Internet
http://id.wikipedia.org/wiki/Kamera_digital
http://id.wikipedia.org/wiki/Fotografi
Dwifriansyah, Bonny. 2008. Sejarah Fotografi Dunia. Terarsip di: http://www.insankamil.org/photography-f50/sejarah-fotografi-dunia-t489.htm
Lestari, Annisa. 2008. Sejarah Fotografi. Terarsip di: http://annisalestari.multiply.com/journal/item/18
Primulando, Reinard. 2009. Nobel Fisika 2009: Dari Fisika untuk Anak Muda. Terarsip di: http://engkongfisika.blogspot.com/2009/10/nobel-fisika-2009-dari-fisika-untuk.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar