Jumat, 04 Juni 2010

Nasionalisme Mengusut

Pada tanggal 19 dan 20 Mei 2010, UGM mengadakan sarasehan nasional dengan mengangkat isu nasionalisme sebagai pembangun karakter bangsa. Bertempat di Balai Senat UGM, nama-nama besar seperti Asvi Warman Adam, Siswono Yudhohusodo, Panglima TNI Jenderal Joko Santosa, dan Surya Paloh didatangkan sebagai narasumber.
Perbincangan mengenai nasionalisme dan character building seakan tidak akan pernah basi mengingat keadaan Indonesia sekarang yang semakin carut marut, tidak hanya para elite politik, tetapi juga masyarakat luas. Maka dipilihlah judul “Nasionalisme Mengusut” yang mengakar dari dua kunci pokok, kusut dan usut. Akar yang pertama adalah kusut, contoh nyata mengusutnya nasionalisme adalah perginya Sri Mulyani dari kursi Mentri Keunangan untuk lebih memilih menduduki kursi di Bank Dunia, jelas hal ini menyisakan masalah besar bagi ketatanegaraan. Akar kedua adalah usut, yang berarti nasionalismelah yang layak menjelaskan apa siapanya diri nasion ini di masa kini, yaitu dengan rasionalitas dan spiritualitas. Nasionalisme adalah soal rasa, imajinasi dan kecintaan ketanahairan. Penulis dunia R. Freeman menjelaskan kemajuan peradaban suatu bangsa, termasuk demi bangunan kukuh nasionalismenya adalah memajukan daya pernalarannya. Nasionalisme sesungguhnya sudah lama berteriak kepada wargabangsa betapa kita telah menjadi bebek dan budak kemodernan seraya kehilangan jatidiri

Komentar:
Ya, sepertinya momen kebangkitan nasional dimanfaatkan baik oleh universitas untuk mengangkat tema nasionalisme dalam sarasehan nasional. Sarasehan ini mengingatkan kita kembali betapa pentingnya penanaman nasionalisme sebagai sebuah character building bagi seluruh masyarakat, yang berfungsi sebagai benang penghubung antar individu dalam konteks keindonesiaan.
Menilik situasi saat ini, beberapa kasus besar yang diberitakan media tidak jauh dari permasalahan nasionalisme. Perginya Sri Mulyani ke Bank Dunia, kasus Susno, mafia peradilan, hingga kasus di perpajakan merupakan hasil dari kegagalan merasuknya nilai-nilai nasionalisme. Keputusan Sri Mulyani bergabung dengan Bank Dunia menurut saya kurang bijak, meski kita tahu betapa banyak pihak yang mendemonya untuk turun dari jabatan Menteri Keuangan, setidaknya masih ada tempat lain yang lebih baik jika memang harus turun jabatan. Begitu juga dengan kasus mafia peradilan dan perpajakan, dengan semena-mena mereka melakukan tindakan yang merugikan negara demi memuluskan jalan dan tujuan masing-masing. Keegoisan akan kekuasaan telah melunturkan semangat nasionalisme yang harusnya mengakar kuat dalam diri.
Bak gunung es, sedikit kasus yang melejit diatas hanyalah beberapa dari ribuan permasalahan yang terjadi saat ini. Oknum-oknum di tingkat rendahan pun saat ini mulai ikut-ikutan menyalahgunakan kekuasaan mereka, atau yang paling sederhana adalah sikap kaum muda yang malu menunjukkan keindonesiannya dengan mengubah diri layaknya orang barat. Pudarnya nasionalisme memang sudah universal, kini saatnya kita menyadari akan situasi ini dan mulai menata kembali rasa dan intuisi kita akan arti nasionalisme.
****
Nasionalisme masa kini, barangkali sebagian penduduk negeri ini tidak menyadari bahwa hal tersebut telah mengalami kemerosotan. Ditilik dari perjalanan negeri ini, agaknya nasionalisme yang dalam negara ini mengalami pengusutan. Kerancuan nasionalisme sehingga mengusut seperti sekarang ini sangat dipengaruhi dengan isu-isu besar seputar ketatanegaraan yang sering mucul dimedia nasional, maupun isu-isu kultural yang kerap kali luput dari perhatian kita.
Kekusutan nasionalisme ini terlintas setiap hari didepan mata kita, diberbagai media isu-isu besar pemicu kekusutan ini muncul setiap harinya. Mulai dari bobroknya sistem perpajakan, mafia peradilan, dan berbagai masalah peradministrasian negara lainnya. Seolah cendawan, permasalahan ini muncul pandemik dan ada dimana-mana. Keadaan masyarakat masa kini yang cenderung apatis dan hedonis makin menyuburkan pengusutan ini.
Sejatinya, akar rumputlah yang justru menjadi korban dari kekusutam nasionalisme ini. Tanpa kekuatan yang besar, akar rumput hanya menjadi seseorang yang tertindas dari sistim yang timpang ini. Berbagai kemajuan yang diciptakan Soeharto ternyata berjalan menuju arah yang salah, kemajuan struktural tanpa diimbangi penanaman azas-azas fundamental tiap warga negara akan berakhir kepada kehancuran.
Globalisasi yang menyerang negeri ini semakin memperparah kekusutan nasionalisme ini. Revolusi adalah hal yang tepat untuk membedah kekusutan nasionalisme ini. Jikapun tidak dapat dilakukan, maka jati diri bangsa ini bisa saja hilang didalam hutan lebat globalisasi yang tertutup kabut tebal moderenisasi. Nasionalisme harus dipertahankan, berapapun harganya! Harga mati ini untuk menjaga keutuhan dan kelangsungan hidup bangsa Indonesia. sebelum dilumat habis oleh budaya populer yang kini marak menyerang anak-anak bangsa. Tanpa penanaman nilai-nilai pancasila dan nasionalisme, dengan mudah generasi penerus bangsa ini kehilangan keindonesiaannya.
****
Nasionalisme, mungkin ada kalanya kata tersebut akan basi untuk diperbincangkan. Selama ini pembicaraan mengenai nasionalisme selalu mendapat apresiasi positif. Namun, secara realita hanya beberapa orang saja yang menganggap demikian. Telah banyak mahasiswa kini lebih menyukai kata “fashion” daripada nasionalisme. Kata nasionalisme seolah mengalami peyorasi secara makna maupun dalam berbagai macam perforasi.
Tidaklah tepat kalau banyak pihak menggunakan istilah mengusut nasionalisme. Nasionalisme sudah tidak hanya kusut, tapi terputus dari cita maupun makna yang sebenarnya. Bagaimana tidak, kata nasionalisme tidak lagi muncul dalam percakapan sehari-hari. Kata ini seolah hanya menjadi komoditas retorika semata dari para elit politik. Maka, tidaklah heran jika kata nasionalisme selalu membasahi bibir dalam ruang seminar, kuliah, dan kongres kepartaian.
Ada baiknya meskipun agak frontal bahwa kata nasionalisme dihapuskan saja dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Orang baru merasa berharganya nilai sesuatu ketika kehilangan sesuatu tersebut. Dengan begitu, orang-orang akan meraba dan mencari kembali pendefinisian nasionalisme tidak hanya pada tataran teori tapi juga aplikasi.

Disusun bersama Arif Nur Rahmad dan Arif Akbar JP

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar