Rabu, 24 Maret 2010

Kabut Kenangan

Kubuka mataku dengan terpaksa sambil tanganku terus mencari-cari dimana selimut itu berada. Tak seperti biasa aku terbangun karena kedinginan. Tapi kali ini, hawa dingin benar-benar menusuk persendian tulangku, apalagi selimut kesayanganku entah sejak kapan hanya menutup bagian kakiku saja. Kunaikkan hingga menutup seluruh tubuh sampai menutup wajahku. Aku tak mau serpihan air hujan yang masuk lewat sela-sela loteng itu membuatku semakin kedinginan. Mataku mulai terpejam, tetapi entah kenapa, aku tidak segera menemukan mimpiku kembali. Aku hanya terdiam mendengar suara-suara alam yang seakan tertawa senang melihatku menderita. Kurasakan waktu terasa begitu lambat, mengurungku di kamar sempit beralaskan tanah yang dari dulu aku lahir sampai sekarang tak ada perubahan. Hanya atapnya saja yang pernah ganti sekali, itupun karena memang kondisinya rusak parah tertimpa pohon. Aku ingat waktu itu aku kelas empat SD ketika aku masih tidur sekamar dengan ibuku, pohon munggur setinggi sepuluh meter itu menghancurkan sisi belakang rumah dan merontokkan hampir semua atap rumahku. Untung saja waktu itu kamar yang aku tempati tidak begitu parah sehingga aku beserta ibuku selamat dari musibah itu.
Kulirik jam dinding di depanku, samar-samar terlihat jarum pendek hampir medekati angka empat, sebentar lagi subuh. Kupaksa badanku untuk bangun, duduk sebentar sambil mengumpulkan nyawa yang masih beterbangan di langit-langit. Kulihat pantulan wajahku di cermin yang menempel di dinding dekat tempat tidur. Kusam, awut-awutan tapi cantik mirip ibuku. Guratan-guratan wajahku jelas merupakan warisan dari ibu. Rambut yang panjang lurus, dan lesung pipiku menambah kemiripan antara aku dan ibu. Banyak yang bilang kalau aku mirip sekali dengan ibu waktu muda. Tidak untuk sekarang, kecantikan ibu berangsur-angsur menghilang sejalan dengan semakin bertambahnya umur dan ketabahan ibu mengurusku sendirian sampai sebesar ini. Setiap kerut di wajahnya menyiratkan betapa kerasnya jalan hidup yang dilalui ibu. Walaupun begitu, masih terlihat sedikit sisa-sisa kecantikannya, bagaimanapun ibu pernah menjadi primadona di desaku kala itu.
Akhirnya dengan perlahan, aku turunkan kakiku ke tanah. Ceeeessssss...aliran darahku serasa dipenuhi butiran-buiran es yang mengalir dari tanah melewati kakiku menuju ke seluruh tubuh. Kuambil sandal dan kupaksa tubuhku untuk berdiri dan berjalan menuju sumur. Hampir saja aku terpeleset di pinggir sumur karena tubuhku belum benar-benar seimbang untuk berjalan secara normal, untung saja aku masih sempat menggapai pinggiran sumur. Aku berhenti sebentar kemudian kumulai menarik dengan pelan timba air sepanjang dua puluh meter. Lumayan dalam memang, tapi rata-rata memang segitulah kedalaman sumur di daerahku yang pegunungan. Kumasukkan air yang kutimba ke padasan. Sampai empat kali ember itu naik turun, akhirnya penuh juga.
Terdengar lantunan gemericik air beradu dengan bebatuan yang sengaja disusun di bawah pancuran padasan, aku mulai wudhuku sambil merasakan dinginnya air yang mulai membanjiri beberapa bagian dari tubuhku. Sapaannya lembut sembari meninggalkan efek yang luar biasa, dingin yang menyegarkan.
Kulalui lagi jalan menuju kamarku. Kulihat ibuku masih terbaring nyenyak saat aku melewati kamarnya. Sepertinya ibu pulas sekali, dengkuran lirihnya menghentikan niatku untuk membangunkannya. Aku putuskan untuk sholat terlebih dulu.
Sehabis sholat kuambil jilbab putihku kemudian aku menuju kamar ibu, tapi tak kulihat sosok luar biasa itu, pasti beliau ada di sumur. Ya, ternyata benar, beliau sedang wudhu di padasan. Terlihat tubuh tua ibu tidak sedikitpun goyah diterjang air sumur yang sangat dingin itu. Padahal baru kemarin ibu terlihat agak sehat, hari-hari sebelumnya ibu hanya kuat duduk saja di kamarnya.
Perlahan, aku dekati ibu dan kusampaikan niatku bahwa pagi ini aku akan ke puncak sampai siang nanti. Beliau hanya tersenyum dan mengangguk saja tanda setuju. Itulah ibuku, jarang berbicara, santun, dan sayang sekali padaku. Jarang sekali ibu mengatakan tidak kepadaku. Jiwanya lembut dan ikhlas merawatku sendirian tanpa didampingi seorang suami. Kata ibu, bapakku meninggal ketika umurku masih lima tahun. Entah karena apa bapakku meninggal sampai saat ini aku tidak tahu. Aku tidak tega menanyakan hal itu pada ibu.
Aku mulai menjejakkan kakiku keluar rumah, keadaan sudah agak terang, kulihat di ufuk timur, semburat warna warni mulai muncul berpadu dengan awan tipis sisa-sisa hujan semalam. Langit masih sedikit berawan namun cerah dan tak ada tanda-tanda akan hujan lagi. Jalan-jalan sedikit becek sehingga membuatku harus ekstra hati-hati agar tidak terpeleset.
Seperti pagi-pagi biasanya, belum banyak aktifitas di sepanjang jalan yang kulalui. Aku berjalan sendiri melintasi jalan-jalan menanjak menuju puncak. Tak berapa lama terdengar suara-suara tawa dan celotehan orang, pasti itu meraka. Kupastikan mereka benar-benar teman-teman dari UGM setelah kudengar tawa Udin yang memang keras dan khas. Kuhampiri mereka.
”Assalamualikum, maaf teman-teman udah lama nunggu ya?”, tanyaku.
”Waalaikumsalam”, jawab mereka kompak.
”Ya, begitulah, udah satu jam tau?”, jawab Udin sambil cengengas-cengenges.
”Ohh, tidak kok Dik Dilla, kita juga barusan kesini, baru lima menit.”, jawab Mas Fanan.
Aku tahu dia cuman bercanda, dia memang lucu dan sering menjadi penghibur teman-temannya karena sering melakukan hal-hal konyol dan lucu.
”Ohh gitu ya, ya udah mari kita segera naik ke puncak saja, mumpung masih pagi”, ajakku.
”Ayooo”, jawab mereka.
Kami segera menaiki tangga setinggi seratus meter menuju gardu pandang di puncak tertinggi Pegunungan Menoreh ini. Tangga yang nyaman untuk dinaiki, tidak seperti waktu kecil dulu ketika jalan menuju puncak masih dipenuhi semak belukar dan hanya laki-laki dewasa yang bisa mencapai puncak ini.
Kupandangi satu per satu orang-orang di sekitarku, mereka semua orang-orang hebat, terpelajar, calon sarjana-sarjana muda lulusan universitas paling ternama di Indonesia. Udin, walaupun agak bandel dan cerewet, ternyata dia adalah aktifis BEM yang kecerdasannya tidak bisa dianggap remeh. Kemampuan dalam hal propaganda menjadikan dia sebagai orator ulung sehingga dialah yang selalu menjadi point of interest disetiap demo yang dilakukan BEM. Mbak Sari, mahasiswi Sastra Inggris ini ramah sekali. Wajahnya yang cantik terbalut jilbab dan tutur katanya yang lembut menjadikan dia terlihat begitu anggun dan bersih. Dia juga aktif di organaisasi kerohanian Islam. Mbak Ida, wajah sinisnya jelas tidak bisa dijadikan acuan sifat-sifatnya. Karena sebenarnya dia sangat baik, perhatian dan paling care pada orang lain. Memang sih awalnya dia agak kaku, tapi setelah akrab dia menjadi sangat berbeda dengan dugaan awalku. Mas Fadel, cowok yang satu ini tiap hari kerjaannya hanya jeprat-jepret saja. Tak pernah aku melihat Mas Fadel tanpa kamera Canonnya. Dia juga seorang yang pendiam, tetapi dia bisa menjadi sangat cerewet ketika ngomongin soal fotografi. Semangatnya selalu meluap-luap saat dia memamerkan hasil jepretannya. Kemarin aku hampir sejam mendengarkan penjelasan tentang foto-foto yang dia ambil di sungai sebelah. Ekspresinya lucu ketika dia ngomong, logat Tegalnya kadang keluar saat dia asik menjelaskan karya-karyanya. Mas Fanan, sosok yang paling aku hormati diantara semuanya. Dia adalah ketua kelompok KKN UGM yang berada di desaku. Sederhana, cerdas, berwibawa, dan dewasa itulah sedikit gambaran sosok Mas Fanan. Umurnya memang agak tua daripada yang lain, karena dia sudah memasuki tahun keenam masa kuliah sampai KKN ini. Keadaan ekonomi keluarganya yang menyebabkan dia harus membagi waktu antara kuliah dan bekerja. Usahanya yang dirintis sejak semester awal dulu saat ini sudah mulai berkembang. Sehingga dia memutuskan untuk segera mengakhiri masa studinya agar cepat-cepat lulus dan mengembangkan lagi usahanya. Dua hal yang sama antara aku dan Mas Fanan, kita sama-sama dilahirkan dari keluarga yang tidak mampu dan lulus SMA mendapat beasiswa kuliah di UGM, tetapi yang membedakan, dia berani untuk mengambil resiko itu, mengadu nasib di kota orang. Berbeda dengan aku yang yang lemah, aku tidak tega meninggalkan ibu sendirian tanpa ada yang menemani. Aku khawatir jika terjadi apa-apa pada ibu, walaupun saat itu ibu mengizinkanku untuk meninggalkannya, tapi aku tetap tidak kuat untuk melepasnya, sehingga aku putuskan untuk tetap tinggal di rumah membantu pekerjaan ibu bertani.
”Diiik...”, suara Mbak Ida membuyarkan lamunanku.
”I...iya Mbak ada apa?”,tanyaku
“Ngalamun ya? Hayoooo....pasti ngalamunin aku”, timpal Udin.
“Enggak kok”, jawabku cepat.
”Gimana kabar ibu?”, tanya Mbak Ida.
”Alhamdulillah baik kok Mbak”, jawabku.
”Tumben Mbak nanyain ibu?”, tanyaku balik.
”Ga papa, kata Pak Dukuh kemarin ibumu sakit”, jawabnya.
”Oh, iya kemarin ibuku masuk angin, kecapaian mungkin, tapi sekarang udah baikan kok”, kataku lagi.
”Baguslah kalau udah sehat”, kata Mbak Ida.
”Ngomong-ngomong Rian, Mas Eko, Dina, Mbak Sandra dan yang lain kemana kok ga ikut?”, tanyaku.
”Mereka rencana mau nyiapin peralatan buat program besok”, jawab Mas Fanan.
”Kayaknya kebo-kebo tadi masih pada tidur deh”, celoteh Udin.
”Huuuu, bukannya kamu Din yang suka ngebo?”, sangkal Mbak Sari
Suasana menjadi sangat ramai dan hangat, beruntung sekali aku bisa berada di tengah-tengah mereka. Bisa ikut merasakan apa yang disebut KKN, sesuatu yang tidak mungkin aku dapatkan. Akhirnya, kami sudah sampai di gardu pandang, kami duduk dan sesuai rencana awal, aku diminta untuk menceritakan semua hal tentang desaku. Mulai dari kondisi ekonomi, sosial, hingga Puncak Suroloyo yang kami pijak saat ini. Aku ceritakan semua dari a sampai z diselingi dengan canda teman-teman. Tak jarang pula Mas Fadel tertawa sendiri melihat hasil fotonya yang menjepretku saat bercerita. Katanya, aksen bicaraku sudah kayak politikus ketika sedang pidato, ah bisa aja Mas Fadel.
Tak terasa matahari sudah beranjak naik, tetapi hawa sejuk khas puncak masih sangat terasa. Kami memutuskan untuk turun karena teman-teman KKN akan ada agenda selanjutnya. Saat yang lain sudah mulai turun, kulihat Mas Fanan masih sibuk menulis dengan pensilnya.
”Ayo mas turun, yang lain sudah pada ke bawah tuh, ati-ati kesambet loh”, candaku.
”Iya sebentar, kurang sedikit nih”, jawabnya.
Akhirnya Mas Fanan mengakhiri pekerjaannya dan turun bersama aku. Kita berjalan beriringan tanpa ada suara sedikitpun. Dari atas terlihat Mbak Ida, Mbak Sari, dan Udin sudah sampai di anak tangga paling bawah, sedangkan Mas Fadel entah masih sibuk motret apa di pinggir jurang. Tiba-tiba Mas Fanan memecah keheningan.
”Dik, mau ngga menikah denganku?”, tanya Mas Fanan singkat.
Seketika semua hening, bibirku tertutup rapat, kakiku terasa berat untuk melangkah, bahkan angin pun seakan ikut berhenti mendengar suara itu. Pohon-pohon diam, tenang, menungguku untuk berucap. Aku sama sekali tidak menyangka bahwa kata-kata itu muncul dari mulut Mas Fanan yang jelas-jelas di situ hanya ada aku, itu berarti akulah yang diajak bicara. Tidak mungkin Mas Fanan bercanda, aku tahu dia orangnya serius.
Aku masih terdiam saat kami sudah hampir sampai bawah, aku belum bisa menjawab, disaat hening itu Mas Fanan berkata,”Kalau masih bingung jangan dijawab dulu, pikirkan baik-baik, apapun jawabannya aku akan menerima, kalau memang mau, aku akan segera melamarmu sehabis KKN ini berakhir, sampaikan salamku juga pada ibu”.
Kata-kata itu jelas sangat melegakanku dimana aku belum bisa menjawab saat itu juga. Bukan karena tidak mau, sungguh suatu kehormatan dan anugrah yang sangat besar bagiku dipinang oleh pemuda yang luar biasa seperti Mas Fanan, tetapi di sisi lain aku masih memikirkan ibu. Aku yakin ibu pasti sangat senang mendengar berita ini, tetapi apa mungkin ibu bersedia ikut aku pergi bersama Mas Fanan? Kurasa ibu lebih memilih untuk tinggal di rumah daripada harus ikut aku. Tapi jelas aku tidak tega jika harus meninggalkan ibu sendirian di rumah sedangkan tubuhnya yang tua sering sakit-sakitan. Sudah dua kali ini aku merasakan hal yang sama, yaitu empat tahun yang lalu ketika aku memutuskan untuk tidak meneruskan studiku di kota, dan kali ini aku harus gimana?
Masalah itu terus bergelayut di otakku sepanjang perjalanan menuju rumah. Aku tidak tahu harus memulai dari mana pembicaraan ini dengan ibu. Kuperlambat jalanku agar aku bisa menyusun strategi untuk berbicara dengan Ibu, tapi sampai di depan pintu aku belum menemukan cara yang tepat untuk memulai pembicaraanku dengan ibu. Kuurungkan niatku untuk masuk rumah, aku benar-benar kalut, bingung, takut dan gelisah karena hal ini.
Akhirnya dengan hanya bermodal keyakinan yang kuat, aku langkahkan kakiku memasuki rumah. Aku cari ibu di kamar, terlihat ibu sedang khusyuk bersujud di atas tempat tidurnya. Kutunda niatku untuk berbicara dengan ibu, aku masuk kamarku untuk melihat jam dinding, sudah jam satu. Aku bergegas ke sumur untuk mengambil air wudhu. Sehabis wudhu, aku menuju kamar dan kulihat ibu masih khusyu dalam sujudnya. Kutunggu sampai beberapa menit tetapi ibu tak kunjung bangun. Aku panggil beliau,”Ibu”.
Tak ada respon sedikitpun. Aku dekati Ibu dan kupegang lembut sambil berbisik”Ibu tidur ya?”
Cesssssss....kurasakan tubuh ibu tidak hangat lagi.

”Ibuuuuuuu....Ibuuuuuuuu”.
”Dik, ada apa Dik?”
Kulihat wajah Mas Fanan panik melihatku histeris. Dia berusaha menenangkanku. Kupeluk tubuh suamiku erat sekali, aku menangis dalam pelukannya.
”Ibu Mas, aku mimpi tentang itu lagi. Aku kangen ibu, besok kita ke puncak ya, kita ziarah ke makam Ibu”, pintaku sambil tersedu.
Mas Fanan hanya mengangguk sambil membelaiku.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar