Rabu, 24 Maret 2010

Perjalanan Melawan Waktu

Thit thit thit thit thit thit …
Thit thit thit thit thit thit …
Thit thit thit thit thit thit …
Kucari-cari darimana suara itu berasal. Kugunakan tanganku untuk meraba-raba kasur empuk yang aku tiduri. Tak juga kutemukan N70 ku, mataku masih sulit untuk dibuka, aku mengandalkan kakiku untuk ikut bergerilya berharap HP itu bisa terjamah dengan mudah. Tapi masih tak berhasil juga.
Terpaksa kubuka mataku, kelopakku membuka perlahan, masih lengket oleh cairan pelumas yang berubah menjadi “alteco”, mengelem mataku rapat-rapat, apalagi ditambah rasa malas menjadi tambah ogah-ogahan untuk menyambut partikel-partikel cahaya. Tapi kali ini aku harus membuka mataku untuk menemukan HP itu, berisik sekali sedari tadi cerewet minta dielus.
Tapi tak kutemukan HP di samping kanan kiriku, terlalu gelap atau malah….
“Waaaaaaa!!!”
Cahaya itu benar-benar membuat mataku tertipu. Kemampuan pupilku mengecil tak secepat cahaya itu merangsek masuk menuju retina, kode-kode palsu terkirim ke otak dalam beberapa detik, gelap, gelap, gelap, dan barulah akhirnya terang.
Kulirik jam di pojok kamarku sambil berdiri, jarum pendek barusan melewati angka sembilan, itu artinya…
“Oh my God!”
Sebentar lagi aku sudah harus kumpul di rumah Tejo. Aku bergegas membersihkan badanku, makan, dan memasukkan beberapa barang yang belum sempat kumasukkan ransel semalam. Kucoba ingat-ingat kembali apa yang belum aku bawa, sarimie enam bungkus, dua botol air mineral, coffemix, panci alumunium, paravin, tenda, senter, sleepingbag, camilan, dan tentunya kamera. Yup…semua sudah siap.
Thit thit thit thit thit thit …
Thit thit thit thit thit thit …
Bunyi HPku dari tadi benar-benar membuatku semakin terburu-buru. Biarlah, aku biarin aja, paling-paling juga Tejo yang udah ga sabar menungguku. Aku siapkan alasan untuk membungkam mulut begundal itu, aku yakin dia bakal marah-marah karena aku sampai jam segini belum standby di rumahnya karena kesiangan.
Yang terakhir adalah Jaket Rei hitamku, teman setia disaatku butuh kehangatan, tak mungkin aku tinggalkan dia di rumah sedangkan aku akan bersenang-senang berkelana di luar sana.
Kuputuskan aku ambil HPku yang sudah mulai bosan bersuara. Hahaaaa…5 new message dan14 missed call. Wah..bisa kena labrak nih.
Thit thit thit thit thit thit …
“ Hallo coy, udah otw nih, bentar lagi sampai”, obrolku singkat.
Langsung kupencet tombol merah sebelum semua isi kebun binatang dia sebut. Biarlah kalau memang mau marah ya ntar sekalian. Bergegas aku keluarkan Jupiterku dari garasi, melesat cepat menuju rumah Tejo yang ga terlalu jauh dari rumahku, ya kira-kira 15 menit sampai.
Kumasuki pelataran rumah Tejo, kupilih tempat teduh di bawah Pohon Rambutan. Satu, dua, tiga, sepertinya memang tinggal aku aja yang mereka tunggu, motor Ali, Seno, dan Farid sudah terparkir rapi di samping motorku.
Kulihat mereka sedang ngobrol di ruang depan, entah sudah berapa lama meraka bertahan di situ menunggu salah satu komplotan mereka masih asik dengan mimpinya. Kumasuki pintu, seketika suasana tenang, mereka manatapku tajam.
“Sudah siap semua, jaket, tenda, makan, minum?” kucoba mencairkan suasana.
“Kalau sudah, berangkat yuuukk” jawabku sendiri.
Mereka masih saja diam, membatu tanpa ekspresi, hanya matanya saja yang kadang membuka menutup.
“Ayolah guys, sorry lama, lupa ga pasang alarm, kesiangan deh” kataku melas.
“Maaf ya…maaf…suweer ga bo’ong” kataku berharap.
Semua masih diam menghayati monolog yang aku peragakan, tanpa ada tanggapan sedikitpun, sial. Kugunakan cara pamungkas dan aku yakin pasti berhasil.
“Okelah sebagai permintaan maafku, nanti aku bayarin ongkos bis mpe Terminal Magelang” kataku lagi.
“OK…OK…YES!!” jawab mereka kompak sambil cengengas-cengenges.
“Kurang ajar kalian ya, maunya dapat gratisan mulu” jawabku kesal.
Suasana kembali mencair seperti biasa, itulah mereka, teman-teman terbaikku, jarang sekali mereka bener-bener marah. Kemarahan mereka bisa disuap dengan uang. Tapi justru itulah yang membuat persahabatan kami bisa bertahan sampai sejauh ini. Kami terbiasa menyelesaikan masalah dengan jalan damai lewat aksi suap menyuap. Bukan berarti kami matre, tapi itulah bentuk tanggungjawab kami atas sebuah kesalahan.
….
Jogja-Wonosobo serasa seminggu. Orang-orang bejubel memenuhi bis yang kami tumpangi. Ditambah lagi barang bawaan kami, onggokan ransel yang membuat bis semakin sesak, panas, dan sangat tidak nyaman. Bau-bauan yang keluar dari kelenjar keringat puluhan orang, parfum tengik lima ribuan, dan aroma besi berkarat bercampur jadi satu membuatku mual ingin muntah. Jalan yang naik turun semakin menggodaku untuk mengeluarkan seluruh isi perutku.
Lembayung kuning mewarnai langit sebelah barat ketika kami menginjakkan kaki turun dari bis tepat di jalan menuju Basecamp Gunung Sindoro. Langkah kami semakin cepat mengingat kami masih harus melapor ke basecamp, makan, dan sholat. Seperti di basecamp gunung-gunung lainnya, kami disambut hangat oleh pengelola basecamp dan ranger disitu. Kami ngobrol sambil menunggu isya’ tiba.
Untuk kedua kalinya lantunan adzan menghentikan obrolan kami, karpet merah tiba-tiba membentang di depan kami menuju masjid di sebelah barat basecamp sehingga kami tersihir agar cepat menunaikan kewajiban isya’. Kuhidupkan kran, kuusap-usapkan air di seluruh tubuhku, sungguh luar biasa semangat yang tertransfer dari air dingin di ketinggian 600 meter ini.
…..
“Kami naik dulu Pak” kataku pada pengelola basecamp.
“Ya, hati-hati, besok kalau turun lapor ya Mas” jawabnya.
“Tentu dong Pak” kata Ali cepat.
“Mari Pak.” pamit kami kompak.
Jalanan mulai menanjak melewati barisan rumah penduduk. Sekitar dua kilometer kami disuguhi pemandangan bangunan kubus beratapkan segitiga yang hampir homogen. Bahkan warna temboknyapun kebanyakan hanya putih polos atau malah tembok yang belun diplester. Penduduk yang sebagian besar adalah petani sayur itu juga tidak menyianyiakan pekarangan rumah mereka untuk ditanami sayuran. Macam-macam jenisnya, menghijau segar menghiasi halaman rumah mereka.
Naik keatas lagi kami harus berjalan lebih hati-hati. Seno yang paling senior dalam dunia pendakian menjadi leader di depan, sedangkan Ali, Tejo, Farid berada di tengah dan seperti biasa akulah yang selalu menjadi sapu ranjau di posisi paling belakang. Kuarahkan cahaya senterku ke sekelilingku, hamparan perkebunan sayur dan tembakau menghiasi kanan kiri track yang kami lewati. Walaupun agak gelap, warna hijau itu masih bisa terlihat jelas oleh mata kami. Selada-selada itu, seperti membungkuk memberikan penghormatan kepada kami, berjejer rapi seperti barisan tentara menyambut komandan tertinggi berbintang lima. Hewan-hewan malam tak kalah heboh menyambut kami dengan ensamblenya. Riuh, meriah, jauh dari kepulan asap hitam dan bising mesin-mesin baja yang beradu di bawah sana.
Hawa dingin semakin terasa ketika kami memasuki hutan belantara, pohon-pohon tinggi nan menjulang, memberikan nuansa yang harmonis dan nyaman menyegarkan memacu spirit kami untuk segera sampai ke puncak. Membuatku berkhayal, andaikan di seluruh ruas jalanan Jogja ditanami pohon seperti ini dengan jarak lima meter saja pasti Jogja akan lebih nyaman. Bisa dibayangkan betapa rimbunnya jalanan, udara menjadi sejuk, asap-asap kendaraanpun bertransformasi menjadi oksigen yang menyehatkan. Benar-benar kota impian.
Lamunanku terbuyar ketika kami memasuki area yang cukup sulit. Batuan kuning kecoklatan menunggu kami dengan track menanjak yang terkadang mengharuskan kami menaiki dinding-dinding batu vertical setinggi dua meter. Asyik dan sangat menantang, bagian inilah yang paling disukai pendaki, kami harus merangkak perlahan-lahan dengan badan agak dimajukan beberapa derajat ke depan mengimbangi ransel besar kami agar tidak jatuh ke belakang.
Kami putuskan untuk beristirahat, kira-kira dua jam lagi kami sampai di puncak dan sepertinya timing kami tepat. Belum ada tanda-tanda matahari akan segera terbit, kubuka HPku, jam setengah tiga.
“Ayo lanjuuuut” teriak Seno semangat.
“Bentar lagi lah” gerutu Farid.
“Kalo terlalu lama kita ga akan dapet sunrise tau!” jawab Seno.
Bebatuan coklat membentang menuju puncak, dihiasi edelweiss yang bermekaran dan tanaman buah warna merah kecil-kecil. Tanaman-tanaman itu membentuk gerombolan-gerombolan diantara bebatuan yang sebagian dipenuhi hamparan rumput-rumput tinggi. Tak terasa kami sudah mencapai puncak lebih cepat dari target, hanya satu setengah jam. Kami beristirahat, duduk, memanjangkan kaki, merasakan semilir angin dingin sembari menunggu waktu Subuh.
“Sepertinya sudah subuh, sudah jam empat nih” kata Ali.
Dia langsung bangkit turun agak ke bawah mendekati hamparan rumput yang berembun. Dia usapkan embun itu keseluruh tubuhnya. Tanpa dikomando, kami ikuti apa yang dilakukan Ali.
Kurasakan nikmatnya subuh di puncak setinggi 3153 meter ini, beralaskan bebatuan, dengan semilir dingin dan diiringi suara angin yang berhembus.
Semburat merah mulai nampak, mengintip dari balik awan di ufuk timur. Warnanya merona semakin lama semakin terang bercampur dengan biru langit. Samar-samar mulai terlihat barisan puncak gunung di sebelah timur, Lawu, Merapi, Merbabu, dan Slamet berdiri kokoh dengan bangga, terbangun menyambut pagi.
Tak terasa matahari semakin keatas, hawa dingin mulai berkurang berganti menjadi hangat. Kami segera packing dan turun. Kami lewati jalan yang sama tapi dengan pemandangan yang berbeda. Semalam tadi kami hanya mampu melihat kanan-kiri track, sekarang matahari telah menerangi sejauh mata kami memandang. Bukit-bukit kecil yang saling tindih, lekukan-lekukan jurang, hamparan warna hijau, edelweiss yang menari-nari tertiup angin, deretan awan yang bergerak, dan Sumbing yang menjulang di sebelah selatan terlihat jelas memenuhi mata kami.
Sebentar lagi kami akan menyusuri bebatuan coklat terjal, untuk kedua kalinya kami memutuskan untuk istirahat di tempat yang sama sebelum merayap di dinding batu ini. Agak lama kami isirahat, Tejo masih asik dengan kameranya, Farid tak berhenti nerocos tentang gunung-gunung yang menjulang di sebelah timur, berdebat dengan Ali soal gunung apa yang paling tinggi, sedangkan aku hanya diam melihat tingkah polah mereka ditemani secangkir kopi yang barusan aku buat. Nikmat sekali rasanya.
Kulihat kanan kiri, tak terlihat ada Seno disitu. Kuintip kebawah, aku harus menuruni dinding satu setengah meter dibawahku agar bisa melihat keadaan di bawah sana, kuturuni jalan ini perlahan dan akhirnya sampai. Aku kitari tempat ini, kulihat ada sesosok mahluk yang sangat aku kenal tertelungkup di samping bebatuan. Ku berlari sambil berteriak sekencang kencangnya.
“Aliiiiiii….Tejoooooooo…kesini kaliaaaaaaaan!!”
Aku dekati sambil berlari, semakin dekat semakin jelas kalau itu adalah Seno. Tubuhnya kotor penuh luka. Aku hentak-hentakkan tanganku ke bahunya berharap dia segera bangun. Entah sudah berapa kali aku berusaha membuatnya bangun, tapi tak ada hasil. Farid berusaha menampar-nampar wajah Seno sambil meracau tidak jelas.
“Bangun kau No, ooooooooiiiiiiii bangun” teriak Farid.
Aku masih tertegun melihat keadaan ini, otakku mulai berpikiran buruk, ga bisa dibayangkan bahwa kami akan membawa mayat dari puncak gunung sampai ke bawah selama tujuh jam. Penduduk setempat pasti akan kaget menyambut kami berempat menandu mayat. Belum lagi apa yang akan aku katakan pada keluarga Seno di bawah nanti, atau bahkan media yang akan meliput kami.
Empat orang pendaki Sindoro membawa satu orang temannya dalam keadaan meninggal.
Kata-kata itu menggaung berkali-kali di telingaku dengan intonasi pembaca berita TV, meracuni otakku, membuatku semakin kacau. Kami hanya diam memandangi seorang dari kami tergeletak tanpa nyawa di depan kami.
“Turun yuuuk”
Seketika mataku melotot menuju kearah suara tersebut.
“Kurang ajar kau No” umpatku.
Langsung saja kami berempat bangun memaki Seno bergantian.
“Sialan!!” kata Farid keras.
“Anjriiit kau No, kirain mati beneran, panik tau!” teriak Tejo sambil mendorong kepala Seno.
“Kau tahu?? Aku tadi udah mikir yang aneh-aneh tentang kau” kataku tak kalah keras.
“Ngapain kau pake acara nipu segala? Kurang kerjaan banget?” tanya Ali
“ Sorry bro, salah sendiri dari tadi kalian diajak turun kagak mau, malah berlama-lama nggak jelas, kalian ingat kemarin mas yang di basecamp bilang, cuaca sekarang lagi nggak menentu, liat tu ke bawah kabutnya naik, mendung juga, kayaknya mau hujan” jawabnya enteng.
“Trus itu kenapa tanganmu banyak lukanya?” tanya Ali lagi.
“Hahaaaaaaa…sebenernya aku tadi jatuh beneran, nabrak pohon-pohon berduri sebelah sono tuh” jawabnya lagi sambil menuding ke bawah.
“Oke oke lupakan semuanya, yuk turun, daripada ntar kehujanan kalian mati beneran di sini” perintah Seno.
Untuk kali ini kami menurut saja walaupun sebenarnya ndongkol juga akibat aksi konyolnya barusan. Tapi karena dia memang yang paling tahu masalah pendakian, kami tahan dulu rasa kesal ini. Awas aja ntar di bawah bakal habis dia.
Benar saja apa yang dibilang Seno, suasana tiba-tiba menjadi dingin, kabut tebal menyelimuti kami, sehingga jarak pandang kami hanya lima meter. Segera saja kami packing dan turun melewati bebatuan terjal. Track ini akan lebih lama daripada saat naik karena kami harus merangkak perlahan dengan menghadap ke dinding, itu artinya kita berjalan ke belakang, apalagi kemampuan mata kami terhalang tebalnya kabut yang mulai naik. Cuaca benar-benar berubah drastis. Langit seketika tertutup awan hitam, butiran-butiran halus mulai berjatuhan semakin lama semakin membesar. Dingin sekali hujan ini, sama seperti es batu yang baru dikeluarkan dari frezzer.
Kami harus lebih hati-hati mengingat track ini semakin berat dengan adanya air, bebatuan menjadi licin. Seno memberi komando agar tetap hati-hati, jangan panik. Kami terus menuruni tebing ini, lama sekali. Tubuh kami sudah basah kuyup, tanganku mulai kaku menapaki dinding di depanku. Batu-batu tajam itu mulai tidak terasa lagi menggores tanganku, tanganku mulai memutih, mati rasa. Seno memberi semangat lagi, tak henti-hentinya dia berteriak.
“Sebentar lagi track batu ini selesai, di bawah sana lapang, kita dirikan tenda disitu”
Hanya Seno yang terlihat masih segar, kulihat Ali, Tejo, dan Farid hanya diam sepertiku, terguyur hujan yang tak kunjung berhenti. Wajah Ali pucat sekali, bibirnya mulai membiru. Sesekali kami mengusap air yang membasahi wajah kami. Seno masih terus berteriak memberikan dukungan moral pada kami, hebat sekali dia, semangatnya luar biasa. Tanggungjawab dia sebagai seorang leader benar-benar patut diacungi jempol. Walaupun kadang kulihat dia berusaha menyembunyikan wajahnya, meringis menahan sakit akibat luka-luka saat jatuh tadi. Aku hanya diam tak bisa berbuat apa-apa.
Akhirnya bebatuan terjal ini berakhir, hujan masih deras, wajah kami semakin memutih pucat. Kami temukan tempat yang agak lapang untuk membangun tenda, tempat yang lumayan aman karena di kanan kirinya terdapat batu-batu besar sehingga aman dari tiupan angin, selain itu juga agak jauh dari pepohonan yang bisa saja tiba-tiba menimpa kami.
Tanpa menunggu waktu lagi aku buka ranselku, kucari tenda untuk segera didirikan. Aku mulai khawatir karena seharusnya tenda itu aku taruh di paling atas ranselku, tetapi tak kutemukan. Kucoba memasukkan tanganku lebih dalam lagi, kuraba-raba, tetap saja tak kutemukan. Kusuruh semuanya membuka tas masing-masing, siapa tahu tenda itu aku pindah tadi, walaupun sepertinya tidak. Aku mulai ingat, sepertinya tadi tertinggal saat Seno mengajak segera turun, karena waktu itu barang-barangku dalam posisi di luar semua, mengeluarkan panci yang aku gunakan untuk memanasi air membuat kopi. Karena terburu-buru, kemungkinan tenda itu belum aku masukkan, ceroboh sekali aku.
Hujan masih sangat deras, kami makin panik, kulihat Seno tidak bicara lagi, malah dia menjadi paling pucat diantara kami berlima. Kami benar-benar bingung, tak tau apa yang harus kami perbuat, aku semakin merasa bersalah. Aku berharap ada jalan keluar terbaik keluar dari mulut Seno, tapi dia tak kunjung bicara, diam seperti memikirkan sesuatu. Sedangkan yang lain juga diam tak ada solusi. Aku merasa bersalah sekali, akibat kecerobohanku, semua menjadi begini.
“Ayo segera turun, semoga kita beruntung” kata Seno pelan.
Kuikuti saja langkahnya, aku masih bingung maksud perkataan Seno, aku menangkap hal buruk dari maksud perkataannya. Semoga kita beruntung. Separah itu kah keadaan kami? Apa hanya keberuntungan yang mungkin bisa menyelamatkan kami? Kalau dipikir-pikir memang sepertinya demikian, masih enam jam lagi kami sampai di basecamp. Aku jadi tak yakin apa kami kuat kedinginan selama itu, kulihat Seno mulai menggigil, jalannya tak selancar tadi.
Tiba-tiba tubuhnya jatuh, menggelinding beberapa meter di depan kami. Karena dia paling depan, tidak ada yang menahannya. Kami langsung mendekati Seno, wajahnya benar-benar pucat, kududukkan dia, matanya kadang terbuka, kadang menutup perlahan. Aku ajak dia bicara terus, kutempar-tampar pipinya. Dia masih setengah sadar. Satu hal yang aku ingat bahwa seseorang yang sedang mengalami hipothermia berat harus selalu sadar, bagaimanapun caranya. Entah kenapa obrolanku dengan Seno sebulan lalu tentang hipothermia bisa teringat. Dan sekarang seseorang di depanku mengalaminya. Kutampar-tampar lagi Seno, aku yakin itu tidak menyakitinya, mungkin hanya terasa geli. Kuperkeras lagi sambil mengajaknya bicara. Dia hanya membalas dengan senyum kecut, entah apa yang ada di otaknya saat ini. Semoga dia masih bisa merasakan tamparan-tamparanku.
Hujan sudah tidak turun lagi, tapi rasa dingin belum hilang dengan kondisi basah kuyup dan angin yang lumayan besar. Karena sudah memungkinkan, kusuruh semuanya ganti pakaian. Kubuka juga ransel Seno, kucari bajunya. Satu hal lagi pelajaran yang aku dapat kenapa kemarin Seno menyuruh pakaian-pakaian kami dimasukkan keplastik dulu sebelum masuk ransel, pasti pakaian kami sudah basah kuyup diguyur hujan andai saja hal itu tak kami lakukan. Segera kulepas pakaian Seno, terlihat beberapa bagian tubuhnya biru lebam, mungkin bekas benturan saat jatuh awal tadi, kaki dan tangannya pun banyak luka-luka gores. Ali mendekat membawa minyak kayu putih, ia guyurkan langsung ke tubuh Seno, dia ratakan ke seluruh tubuh. Aku pakaikan baju dan celananya, dia belum sadar betul, dia masih menggigil sambil meracau tak jelas. Kuajak bicara dia sekenanya.
Kami putuskan untuk menggendongnya bergantian ke bawah, tak ada jalan lain selain itu, kami hanya berharap segera dapat bantuan dari bawah. Tapi apa mungkin ranger-ranger di basecamp tau kesulitan kami? Aaaahhhhhh…semoga saja kami beruntung.
Kuturuni jalanan becek, dengan Seno dipunggungku dan ransel yang kuseret dengan tangan kananku. Pelan-pelan kami menuruni tanah basah ini, baru setengah perjalanan, masih empat jam lagi. Tiba-tiba sesuatu yang tak kami harapkan terjadi, hujan turun lagi, walau tidak terlalu deras, jika tak segera berhenti, tak kurang dari setengah jam pakaian kami pasti akan basah lagi. Padahal ini pakaian terakhir kami. Kami percepat jalan kami sambil terus berharap keberuntungan dipihak kami.
Kulihat sebuah tenda kecil berdiri di bawah sana, segera saja kami berteriak minta tolong. Kupercepat lagi jalan kami. Terlihat seseorang muncul dari dalam tenda, langsung berlari ke arah kami, dua orang menyusul dibelakangnya juga langsung membantu kami membawakan ransel-ransel kami.
“Tolong kami Mas, teman kami hipothermia berat” pintaku.
“Ayo masuk ke tenda” jawab mas-mas itu.
Kami ikuti mas-mas itu masuk ke tenda, kami tinggal ransel kami diluar karena tenda ini sangat sempit. Kutidurkan Seno, kami guyur lagi dia dengan minyak kayu putih.
“Sebelumnya terima kasih Mas atas bantuannya, kami pendaki dari Jogja” kataku.
“Iya, gapapa, sesama pendaki harus saling membantu, saya Tatang, dia Syukron dan dia Rofi, kami pendaki dari Tegal” jawabnya ringan.
Kuceritakan semuanya dari a sampai z kejadian yang menimpa kami, mereka hanya mengiyakan saja mendengarkanku dengan serius.
Sudah pukul enam sore, hujan diluar semakin lebat, tenda ini kadang-kadang juga bergoyang karena angin sangat cepat menghempas tenda kami, tidak mungkin kami melanjutkan perjalanan ke bawah, kondisi Seno juga belum pulih betul, itu artinya kami harus menginap semalam di tenda kecil ini, tenda dengan kapasitas empat orang yang dimasuki delapan orang. Kami hanya bisa duduk semalaman di sini, melawan waktu, mendengar hujan, memasukkan kepala diantara kedua lutut kami, saling mendekat dan menghangatkan, berusaha untuk memejamkan mata sambil menunggu pagi tiba. Tentu pagi yang cerah sehingga kami bisa pulang.
Pagi pun tiba, tak seperti yang kami harapkan karena butiran air itu masih saja turun dari langit, menunggu dan terus menunggu, akhirnya satu jam kemudian hujan benar-benar berhenti, tinggal angin saja yang kadang-kadang masih berhembus kencang. Kulihat Seno sudah membaik dan yang lain pun sudah jauh lebih baik dari wajah-wajah pucat kemarin.
Kami putuskan untuk packing dan segera turun, kami kemasi barang-barang kami yang telah basah karena semalam terguyur hujan di luar tenda.
“Mas, kalian juga mau turun?” tanyaku.
“Tidak, kami mau melanjutkan naik, masak jauh-jauh dari Tegal ga sampai puncak, rugi ah.” jawabnya enteng
“Apa nggak berbahaya cuaca buruk kayak gini?” timpal Seno.
“Gapapa Mas, kami sudah biasa, toh perelengkapan kami juga komplit” jawab Tatang lagi.
“Okelah, makasih sekali Mas atas bantuannya, kami turun dulu” kata Seno.
“Ya, sama-sama, hati-hati ya” jawab mereka ramah.
Kami turuni lagi jalanan becek ini dengan formasi awal, Seno di depan, Ali, Farid, Tejo di tengah dan aku di paling belakang. Tanah begitu licin, pohon-pohon banyak yang tumbang sehingga kami harus menggunakan bayonet untuk membersihkan ranting-ranting yang menghalangi jalan kami. Kulihat langit sangat cerah, sepertinya air di langit sudah tertumpah habis seharian kemarin.
Sampailah kami di perkebunan penduduk, sebentar lagi kami sampai di basecamp. Entah kenapa penduduk desa memadati perkebunan ini. Kulihat mereka sibuk dengan sayur-sayur mereka, tak tahu sedang apa mereka. Saat kami lewat, mereka memandangi kami lama, entah apa yang mereka pikirkan.
Bahagianya kami akhirnya basecamp sudah terlihat di ujung mata, tak kusangka kami akan selamat. Tak ada formasi lagi, kami berlarian menuju basecamp seperti anak kecil, senang sekali rasanya. Kami terhenti ketika banyak orang memadati basecamp mengerumuni sesuatu, dan kedatangan kami mengagetkan mereka. Orang-orang itu memandangi kami, ada yang berbisik, sebagian menyalami kami sambil berucap, “Alhamdulillah, tidak apa-apa Mas?’
Kami masih bingung dengan apa yang terjadi. Kami berusaha menuju kerumunan, penasaran apa yang mereka lihat. Kulepas ransel dan kumasuki kerumunan itu, betapa kagetnya kami ternyata beberapa sosok manusia terbujur kaku dengan kain yang menutupi tubuh mereka.
“Siapa mereka Mas?” tanyaku pada seseorang di sampingku.
“ Pendaki Mas, kemarin sore ranger menemukan mereka tertimpa pohon di dalam tenda mereka” jawabnya ringan.
Kubuka penutup kain salah satu mayat tersebut.
“Haaaaaa, pendaki Tegal itu!!!!”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar