Rabu, 24 Maret 2010

Resensi - Jadi Penulis Handal Modal Dengkul (Taktik Jitu Menulis Opini di Berbagai Koran)

Sebuah Jalan Menjadi Penulis Opini

Judul : Jadi Penulis Handal Modal Dengkul (Taktik Jitu Menulis Opini di Berbagai Koran)
Penulis : Supadiyanto, S.Sos.I
Penerbit : Intramedia Press
Tebal : 110 halaman + xxviii
Edisi pertama : Juni 2008

Sejak dulu, banyak dijumpai penulis yang kandas di tengah jalan. Tumbangnya para penulis itu tidak lain akibat kalah dalam adu strategi berkompetisi antar sesama penulis.
Menjadi tidak terbantahkan kebenaran kalimat ini. ”Jangan hanya pandai berteori, tapi miskin pengalaman”. Ibarat seorang penjual obat kulit yang berkoar-koar menjajakan dagangannya di apotek, tapi sekujur tubuhnya terbalut penyakit panu dan kudis. ”Jangan pula kaya pengalaman tetapi minus teori”. Ibarat pendekar bersabuk hitam saat berkelahi melawan musuh, tetapi kikuk dan kebingungan mau menerapkan jurus yang mana. Idealnya adalah, kaya pengalaman juga sarat akan teori.
Dalam buku berjudul “Jadi Penulis Handal Modal Dengkul (Taktik Jitu Menulis Opini di Berbagai Koran)”, penulis buku ini sengaja memancing perhatian banyak kalangan agar pembaca tertarik untuk menjadi penulis sejati ditengah menggeliatnya industri pers nasional. Jelaslah, bergelut dalam dunia jurnalistik apalagi di media massa cetak atau elektronik memiliki tingkat kompetisi tidak ringan. Setiap penulis pemula harus memiliki semangat ekstra guna menjaga eksistensinya. Jika melempem di tengah jalan, bisa jadi mereka bakal kandas tanpa hasil. Pernahkah Anda menjumpai dosen (apalagi Jurusan Jurnalistik) yang mengajarkan banyak teori menulis tapi belum ada satu pun karya tulisannya yang terekspos muncul di koran? Satu pertanyaan di atas juga sempat dilontarkan penulis di awal tulisan guna mebuka realitas sosial sebuah ”paradoksal-satirisme” dalam dunia tulis-menulis.
Sejujurnya, tidak ada cara instan bagi Anda untuk menjadi penulis artikel (opini) yang handal. Satu-satunya jalan tidak lain yakni terus menulis ragam tulisan jenis opini dengan berbagai macam tema, kupasan dan variasi tulisan. Sebab itulah, penulis opini harus memiliki banyak referensi bacaan. Tidak seperti halnya profesi wartawan yang cukup menuliskan fakta-fakta hasil reportase jurnalistik yang dikerjakan seharian di lapangan. Penulis opini adalah tipikal orang yang memiliki kepekaan serta sensitivitas masalah-masalah sosial dalam masyarakat.
Mereka yang mampu tampil survive saja yang bisa bertahan menjadi penulis artikel. Untuk sekedar menuliskan pendapat Anda sendiri terkait suatu jenis masalah, Anda membutuhkan energi ekstra agar pendapat tersebut terbingkai bagus dalam sebuah tulisan yang menarik. Banyak penulis yang gagal di tengah jalan, ketika mencoba mem-brainstroming-kan pendapatnya di depan monitor komputer.
Di dunia jurnalistik, masih banyak dijumpai wartawan yang tidak mampu membuat ragam tulisan jenis opini (artikel). Wajar saja bila ini bisa terjadi. Sebab ritme kerja mereka sejak awal hanya diposisikan sebagai penyusun berita dari fakta-fakta yang ada di lapangan dan tidak dibiasakan menuliskan pandangan mereka terhadap suatu masalah. Sebab, harga mati dalam menulis berita wartawan dilarang keras mencampuradukkan opini alias pendapat pribadinya agar isi berita tetap obyektif.
Semakin senior posisi wartawan, mereka tidak lagi bertugas di lapangan layaknya seorang reporter. Mereka tinggal bekerja di kantor menerima ”berita jadi” para kru-nya. Bukankah hal yang aneh, bila ada wartawan senior yang setidaknya sudah bekerja menjadi reporter minimal selama lima tahun, tidak bisa menjadi kolumnis yang handal?
Penulis buku yang pernah menjadi wartawan ini berani membeberkan permasalahan ini, karena dia pernah menjumpai seorang rekan penulis yang telah lama bekerja menjadi wartawan namun belum bisa membuat jenis tulisan opini yang baik. Padahal, untuk menembus meja redaksi, sama artinya harus menaklukkan hati para redaktur. Penulis profesional umumnya telah mengetahui karakter para redaktur, hingga mudah mempublikasikan karyanya di media cetak.
Dari segi isi, buku ini memang cukup menarik bagi penulis pemula. Banyak hal yang dapat dipelajari dari buku ini. Misalnya saja dalam buku ini mendiskripsikan secara lengkap dan sitematis bagaimana menjadi penulis yang handal. Selain itu gaya bahasa yang mengalir membuat buku ini mudah dipahami dan enak untuk dibaca. Hal ini tentu sangat dibutuhkan bagi para penulis pemula yang membutuhkan dorongan mental untuk tetap menjaga eksistensi menulisnya. Namun sayang, pemilihan warna gelap (hitam dan biru) dan desain cover yang sederhana membuat tampilan buku menjadi kurang menarik, ditambah lagi dengan tulisan huruf kecil-kecil dan kurang jelas ketika dibaca.
Selain itu banyak pula penulisan tanda baca yang tidak sesuai dengan EYD yakni mencantumka tanda ( // ) setelah tanda baca titik, menggunakan kata-kata yang semaunya sendiri misalnya mencampurkan kata dalam bahasa daerah (contoh: tetapi cukup mengakalinya dengan nebeng di rental computer ( hal41), disini penulis tidak bakal bicara ndakik-ndakik). Serta banyak pula kalimat-kalimat yang kurang jelas terbaca (hlm 8) atau samar dari segi cetakannya.
Secara keseluruhan, buku ini cocok bagi Anda yang ingin menjadi penulis handal, tidak ada salahnya untuk membeli buku ini sebagai bahan referensi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar