Rabu, 24 Maret 2010

Karl Marx dan Materilisme

Jika kita membahas tentang materialisme, tidak akan mungkin terpisah dari nama Karl Marx. Filsuf dan pakar ekonomi dari Prusia ini telah menulis banyak hal terutama masalah pertentangan kelas. Salah satu karyanya yang populer adalah Manifesto Komunis. Ide-ide dan pemikirannya tentang komunisme menyebabkan dia sering dijuluki sebagai Bapak Komunis. Seluruh pemikiran dan ide dia tuangkan dalam maha karyanya, Das Kapital. Walaupun pada kenyataannya Engels lah yang menerbitkan buku itu, Engels tak lebih sebagai editor dari buku Das Kapital rancangan Marx yang disusun oleh pemikiran sewaktu muda hingga akhir kematiannya.
Marx terlahir disaat revolusi industry, yang mana kaum borjuis mulai bermunculan seiring dengan menjamurnya pabrik-pabrik produksi di Eropa. Melihat kondisi yang ada pada saat itu, Marx mengalihkan perhatiannya pada ide-ide politik dan ekonomi yang revolusioner, walaupun dia meraih gelar doktoral bukan bidang politik maupun ekonomi, melainkan dalam bidang filsafat di University of Jena. Dengan latar belakang filsafat, dia mampu menciptakan ide-ide brilian dengan menggabungkan filsafat dengan ekonomi yang pada akhirnya memunculkan konsep tentang perkembangan masyarakat dengan faktor ekonomi yang mempengaruhi. Salah satu ide kontroversial pada saat itu adalah dia berkesimpulan bahwa kapitalisme bersifat menindas dan mengeksploitasi kaum buruh. Selama hidup, Marx terus mengolah analisanya dengan tujuan akhir menggulingkan kapitalisme dan menggantikannya dengan komunisme dengan cara pengorganisasian kaum buruh. Keinginan sangat kuat untuk membangun suatu masyarakat yang menjunjung tinggi kebebasan buruh dalam berserikat dan persamaan kelas.
Dalam perkembangannya, Marx lebih menekankan pada teori materialismenya untuk menjelaskan kelas-kelas sosial. Marx merumuskan materialisme sebagai paham serba benda. Dari asumsi itu Marx meyakini bahwa tahap-tahap perkembangan sejarah ditentukan oleh keberadaan material. Bentuk dan kekuatan produksi material tidak saja menentukan proses perkembangan dan hubungan sosial manusia, tetapi juga pembagian kelas sosial. Bertumpu pada materi sebagai satu-satunya kenyataan, Marx menjelaskan materialsime sebagai keseluruhan proses perubahan yang terjadi terus menerus tanpa ada antara. Dari proses ini timbul kesadaran melalui proses pertentangan.
Melihat kenyataan waktu itu, bahwa pertentangan terjadi antara kaum kapitalis sebagai pemilik modal dan kaum pekerja yang tak lebih sebagai kaum proletar. Kapitalis dianggap tidak adil karena menguntungkan satu pihak yaitu para pemilik modal. Hal ini akan memperjelas perbedaan kelas, dimana si kaya akan semakin kaya dan si miskin akan semakin miskin. Kondisi ini semakin parah ketika pemilik modal menguasai seluruh alat-alat produksi dari para produsen. Produksi yang dulunya menggabungkan secara aktif antara energi manusia dan alat-alat produksi, setelah dikuasai oleh para pemilik modal, hal ini tidak terjadi lagi. Kaum proletar menjadi tergantung dengan kaum kapitalis, untuk lapangan pekerjaan, kesempatan hidup dan untuk akses alat produksi. Walaupun kaum proletar yang melakukan aktivitas produksi, kontrol penuh tetap dipegang oleh kaum kapitalis sebagai pemilik alat-alat produksi. Mereka tak lebih sebagai buruh yang tereksploitasi.
Pertentangan itulah yang menimbulkan ketidakpuasan disatu pihak yang menyebabkan pergerakan sosial yang menuntut perubahan struktural. Dengan kemenangan kaum proletar, mereka bisa mengambil kembali kepemilikan alat-alat produksi dan berahirlah dominasi kaum kapitalis.

Referensi
Smith, David dan Phil Evan. Das Kapital untuk Pemula. Yogyakarta: Insist Press
Crick, Bernard. 2001. Sosialisme. Surabaya: Pustaka Promethea
Pals, Daniel L. 2001. Seven Theory of Religion. Yogyakarta: Penerbit Qalam
http://jurnal-politik.blogspot.com/2009/03/karl-marx-perjuangan-kelas-materialisme.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar