Rabu, 24 Maret 2010

Teori Kebutuhan Maslow dan Keberagaman Sifat

Dalam konteks komunikasi pemasaran, ada banyak topik yang perlu diperhatikan demi suksesnya tujuan dari pemasaran itu sendiri. Tidak hanya berkutat pada penyempurnaan produk, pengenalan produk kepada khalayak, hingga penyusunan konsep iklan persuasif untuk diudarakan di media. Sebelum beranjak pada permasalahan-permasalahan yang lebih kompleks tersebut, perlu diketahui terlebih dahulu hal-hal apa saja yang dibutuhkan oleh konsumen. Seperti kita ketahui bahwa terciptanya sebuah produk tentu dengan tujuan agar produk tersebut akan diterima oleh konsumen. Sesempurna apapun sebuah produk apabila tidak ada yang mengkonsumsi, produk tersebut bisa dikatakan gagal.
Oleh karena itu betapa pentingnya mengetahui seluk-beluk kebutuhan konsumen. Dalam hal ini, bisa merujuk pada teori kebutuhan Abraham Maslow. Teori ini pada intinya berkisar pada pendapat bahwa manusia mempunyai lima tingkatan kebutuhan, yaitu:
1. Kebutuhan fisiologikal (physiological needs), seperti : rasa lapar, haus, istirahat dan sex.
2. Kebutuhan rasa aman (safety needs), tidak dalam arti fisik semata, akan tetapi juga mental, psikologikal dan intelektual.
3. Kebutuhan Sosial (social needs), seperti: memiliki teman, kasih sayang.
4. Kebutuhan akan harga diri (esteem needs), yang pada umumnya tercermin dalam berbagai simbol-simbol status seperti: penghargaan, pujian dan hadiah.
5. Aktualisasi diri (self actualization), dalam arti tersedianya kesempatan bagi seseorang untuk mengembangkan potensi yang terdapat dalam dirinya sehingga berubah menjadi kemampuan nyata.
Teori ini juga menyatakan bahwa untuk menuju tingkatan yang lebih tinggi, manusia harus memenuhi kebutuhan pada tingkat yang paling dasar terlebih dahulu. Bisa dianalogikan dengan seseorang yang ingin mendapatkan rasa aman dengan membuat rumah, dia harus memenuhi dahulu kebutuhan akan makan sebagai sumber energi untuk aktifitas membuat rumah.
Kelemahan teori ini adalah ketidak relevanan pernyataan “bahwa untuk menuju tingkatan yang lebih tinggi, manusia harus memenuhi kebutuhan pada tingkat yang paling dasar terlebih dahulu” dengan keunikan sifat manusia yang sangat beragam. Salah satu contohnya adalah ketika Abu Dzar mengaktualisasikan diri tanpa melewati empat tingkatan di bawahnya. Dia adalah salah satu sahabat Nabi yang ikut serta dalam Perang Tabuk, dimana lokasi Tabuk sangat jauh dari Madinah, ditambah lagi perbekalan yang minim.. Dalam perjalanan, dia tercecer beberapa mil di belakang rombongan dengan Unta yang sekarat dan tanpa bekal. Akhirnya dia meninggalkan untanya dan memikul sendiri muatannya untuk menyusul rombongan Nabi di depan. Di tengah perjalanan, dia hampir mati dan beruntung sekali tak lama kemudian menemukan sumber air sisa-sisa air hujan. Namun tiba-tiba dia berfikir tidak akan meminumnya sebelum sahabatnya, Nabi Muhammad meminumnya terlebih dahulu. Segera, dia isi kantong kulitnya dengan air dan memikulnya untuk dibawa menyusul rombongan. Saat mendekat, Nabi melihat Abu Dzar sudah sangat kelelahan dan akan rubuh, sehingga beliau langsung memerintahkan untuk memberinya minum, tapi Abu Dzar menjawab bahwa dia mempunyai air. Sontak Nabi kaget dan bertanya kenapa dia tidak meminumnya, Abu Dzar menjawab bahwa dia tidak akan meminumnya sebelum Nabi terlebih dahulu.
Dari kejadian itu, jelas Abu Dzar telah mencapai aktualisasi diri tanpa melewati tingkatan dibawahnya. Abu Dzar tidak membutuhkan terpenuhinya kebutuhan biologis dalam hal ini minum, bahkan dia rela mati, ia tidak membutuhkan pengakuan sosial, tercecerpun ia tidak putus asa, ia tidak membutuhkan pengakuan terhadap kemampuannya, tidak membutuhkan dukungan dari orang lain yang akan membuatnya percaya diri. Abu Dzar menemukan cara yang lebih cepat dan sederhana untuk mencapai aktualisasi diri, yaitu dengan mencintai Nabi. Dia membuktikan bahwa Teori Maslow tidak selamanya bisa menjelaskan keberagaman sifat manusia.
Referensi:
http://chalzone.multiply.com/journal/item/26/According_to_Mr._Maslow...
http://syiar.net
http://bocah.moratmarit.com/2009/08/teori-abraham-h-maslow-teori-kebutuhan.html
http://safarila.blog.friendster.com/2008/11/kebutuhan-menurut-abraham-maslow
http://ictmerdeka.or.id/index.php/pusat-artikel/36-public-area/81-teori-hierarki-kebutuhan-maslow-abraham-maslow-ilmu-ekonomi.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar