Rabu, 24 Maret 2010

Sejarah Hitam Tempo Masa Orde Baru

Keberlangsungan orde baru selama 32 tahun menghasilkan banyak perubahan disegala bidang. Keberhasilannya memperbaiki kehidupan ekonomi dengan program lima tahunannya, transmigrasi, dan KB bisa dibilang sukses, pendapatan per kapita pun naik. Namun itu hanya sedikit gambaran kesuksesan pemerintahan orde baru, di sisi lain KKN merajalela, kecurangan-kecurangan sering terjadi, dan kebebasan pers yang sangat terbatas hingga pembredelan terhadap media.
Tanggal 15 Januari 1974 terjadi Peristiwa Malari yang menelan banyak korban jiwa. Peristiwa ini melibatkan pembredelan 12 media cetak dengan dicacabutnya SIUPP ( Surat Izin Usaha Penerbitan Pers). Beberapa media massa seperti Detik, Majalah Tempo dan Editor ditutup karena sering kritis memberitakan pemerintah.
Kondisi itu jauh berbeda dengan keadaan awal masa orde baru, Soeharto menjanjikan kebebasan berpendapat termasuk kebebasan pers. Tentu hal ini mendapat respon positif dari masyarakat. Rakyat juga semakin senang dengan membaiknya perekonomian dan stabilitas politik sosial di masyarakat, kemajuan terjadi di segala bidang, tetapi sangat disayangkan, pers yang seharusnya bebas malah mendapat banyak tekanan dari pemerintah agar tidak menerbitkan berita-berita yang mengkritisi pemerintah. Jika hal itu dilanggar, pemerintah akan langsung mengancam keras penerbitnya.
Melalui Departemen Penerangan, pemerintah mengawasi setiap gerak-gerik yang dilakukan oleh media massa, mereka dikekang dan dipaksa untuk memberitakan hal-hal baik seputar pemerintahan. Pers benar-benar dalam kendali untuk memuluskan rencana-rencana pemerintah, tak ada kebebasan sedikitpun.
Beberapa media massa akhirnya benar-benar dibredel, pada tanggal 21 Juni 1994, Detik, Editor dan Tempo dicabut surat izinnya akibat memeberitakan berbagai masalah penyelewengan oleh pejabat-pejabat Negara. Harmoko selaku Menteri Penerangan pada saat itu mengumumkan secara langsung.
Pemimpin Editor Tempo, Gunawan Mohammad yang juga seorang penyair dan intelektual yang cukup terkemuka pernah menulis di Majalah Tempo bahwa kritik adalah bagian dari jurnalisme. Sebelum akhirnya dibredel pada 21 Juni 1994, pada tahun 1982 Majalah Tempo pernah ditutup untuk beberapa saat karena berani memberitakan pemilu yang pada saat itu ricuh. Namun beberapa minggu berikutnya Majalah Tempo diizinkan lagi untuk terbit dengan pengawasan yang lebih ketat. Inilah yang menyebabkan Majalah Tempo semakin terkenal akan keberaniannya mengungkap fakta-fakta yang ada di lapangan. Kritikan-kririkannya pun dituliskan dengan kata-kata pedas yang tentu membuat pemerintah semakin berang. Tekanan pun datang bertubi-tubi. Karena dianggap semakin membahayakan pemerintah, akhirnya dibredellah Majalah Tempo. Perjuangan tak cukup sampai disitu, pada tahun 1995 wartawan Majalah Tempo berusaha mendirikan Tempo Interaktif dan ISAI (Institut Studi Arus INformasi), ini menunjukkan bahwa para pekerja media menjunjung tinggi kebebasan pers agar bisa keluar dari belenggu orde baru. Akhirnya Majalah Tempo terbit lagi setelah jatuhnya Orde Baru. Inilah bukti semangat menjunjung kebebasan pers.

Referensi:
http://www.sinarharapan.co.id/berita/0202/09/opi01.html
http://www.indonesiamedia.com/2002/january/local-0102-gunawanmohamad.htm
http://www.tempo.co.id/ang/min/02/18/kolom2.htm
http://disinijurnalvera.blogspot.com/2008/12/sistem-pers-indonesia-masa-orde-baru.html
http://www.facebook.com/notes/tempo/tempo-kembali-1998/46988560417

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar